Page 319 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 319

Suara itu seolah menjadi palu hakim yang mengetuk akhir dari

          kisah kami.

               Setelah mendapatkan makanan, aku kembali ke kamar kost
          dengan  langkah  yang  goyah  dan  tidak  pasti.  Otakku  mati  rasa,

          mencoba mencerna badai yang baru saja memporak-porandakan
          hatiku. Ajaibnya, air mataku tiba-tiba mengering. Aku hanya bisa

          duduk  terdiam,  bersandar  di  sudut  kamar  yang  sepi,  menatap

          dinding kosong dengan tatapan hampa.
               Hingga  akhirnya,  gema  adzan  magrib  berkumandang,

          memecah kesunyian kota Jakarta. Bersamaan dengan suara suci

          itu, pertahananku kembali runtuh. Tangisku pecah lagi, jauh lebih
          sejadi-jadinya  daripada  sebelumnya.  Di  tengah  tangisan  yang

          mengalun  pilu,  ponselku  di  atas  kasur  bergetar  dan  berdering.

          Sebuah nama tertera di layar: Uda.
               Bersama Uda, aku tidak pernah bisa memakai topeng. Segala

          benteng  pertahanan  yang  kubangun  runtuh  seketika.  Aku

          menggeser tombol hijau dengan suara tersedak.
          "Uda, aku mau nangis, aku buka puasa sendirian,"   ucapku di sela-

          sela tangis sesenggukan yang tak bisa ditahan.

          "Aku  temenin  ya,  jangan  nangis",  suara  Uda  terdengar  begitu
          lembut di seberang sana, berusaha menenangkan badai di dadaku.





                                                                        319
   314   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324