Page 315 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 315
Sebenarnya, Popay sempat mengajakku untuk ikut berbuka
bersama keluarganya di Bekasi. Sebuah tawaran hangat yang
seharusnya kuterima, namun ego dan hatiku yang sedang patah
menolaknya dengan halus. Aku memilih tinggal, memendam
harap pada satu orang yang kini terasa begitu jauh.
Farras membalas ketukanku di ruang pesannya dengan
sangat dingin, sedingin angin malam yang menusuk tulang. Dia
memintaku untuk menulis ulang maksudku, karena semua
riwayat percakapan kami telah ia hapus tanpa sisa dari ponselnya.
Ia hanya menulis akan "mempertimbangkan" ajakanku.
Mendengar kata itu, egoku yang setinggi langit mendadak tersulut.
Dengan ketus aku membalas bahwa rencana itu dibatalkan saja.
Namun, jawabannya justru menjadi belati yang menyayat dada.
"Baiklah, let's separate ways, Gin."
Kalimat itu ringkas, namun dampaknya luar biasa hebat. Rasanya
ada tangan tak kasatmata yang meremas dadaku hingga pasokan
oksigen di sekitarku mendadak habis. Sesak, luar biasa sesak.
Panik dan tidak siap dengan perpisahan yang senyata itu,
aku mengabaikan egoku. Jemariku bergerak liar mengirimkan
rentetan pesan secara beruntun, bersenang-senang dalam rasa
bersalah, memohon dengan sangat agar dia mau menemaniku
berbuka sekali ini saja. Pikiranku melayang pada masa lalu, saat
315

