Page 316 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 316

setiap kali aku menjalankan puasa sunah, Farras selalu menjadi

          orang pertama yang merelakan waktu kerjanya, pulang lebih cepat

          hanya demi memastikan aku tidak meneguk air berbuka seorang
          diri. Kini, membayangkan diriku duduk terkurung di sudut kamar,

          menatap  hidangan  tak  tersentuh  di  hari  pertama  Ramadhan,
          membuat  seluruh  tubuhku  gemetar.  Aku  terus  membujuknya,

          merendahkan diriku sedalam yang aku bisa.

               Perjuangan itu tidak mudah. Aku sudah membujuknya sejak
          kemarin,  dan  baru  hari  ini  ia  luluh  dan  mengiyakan.  Namun,

          kesepakatan itu datang dengan syarat yang getir.

          "Buka puasa di teras aja,"  tulisnya.
          Kalimat itu membuat seluruh persendianku lemas. Padahal, jauh

          di dalam lubuk hatiku, aku masih mendambakan kami berjalan

          beriringan  menuju  masjid  untuk  tarawih  bersama.  Namun,  aku
          sudah berjanji pada diriku sendiri dan juga kepadanya bahwa aku

          hanya ingin mencium punggung tangannya untuk yang terakhir

          kali. Sebuah ritual pamungkas sebelum aku benar-benar pasrah
          melepaskannya pergi dari hidupku. Aku belum pernah mengemis

          sedalam ini kepada siapa pun, dan ini adalah batas terakhir dari

          harga diriku.
               Begitu melangkah  pulang dari tempat  kerja,  aku langsung

          bergegas mengambil handuk, membersihkan sisa-sisa lelah yang


                                                                        316
   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321