Page 312 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 312
Aku tertegun, menatap butiran-butiran itu dengan
pandangan mengabur. Benda sederhana ini adalah satu-satunya
jejak nyata darinya yang selalu kupeluk kemanapun aku pergi.
Melihatnya hancur tepat di depan pintu rumahku terasa seperti
semesta sedang memberi isyarat paling telak: memang sudah
saatnya kami usai.
Di dalam kamar yang sepi, aku mencoba mencari pelarian
pada air wudhu. Dinginnya air tak mampu mendinginkan dadaku
yang kian sesak. Saat kain mukena membungkus tubuhku siap
untuk menunaikan ashar, maghrib, dan isya yang tertunda,
pertahananku runtuh total terlebih ketika aku berbohong kepada
mamah jika aku sudah makan bersama farras.
“Farras jemput? Katanya sibuk? Gina yg minta jemput?” , tanya
mamaku
Tangisku pecah sehebat-hebatnya di atas sajadah. Jarang
sekali aku merasa sehancur ini. Di sela isak yang menyesakkan
dada, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirku:
"Ya Allah... aku mau Farras." Lalu sunyi. Hanya ada suara detak
jantungku yang perih. Tiga hari tanpa kabar darinya terasa seperti
selamanya. Aku merindu, namun aku sadar harus mulai belajar
melepaskan. Sejak awal, firasatku memang sudah berbisik bahwa
cerita ini tidak akan berakhir dengan tawa di pelaminan.
312

