Page 307 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 307
lembut berbisik, “Harusnya kamu lebih sabar, Gina. Dia pasti akan
datang menemanimu sebelum boarding”.
Namun sisi hatiku yang lelah menyahut, “Ini Jakarta, dan dia tidak
menghargai waktumu.”
Pukul 08.30, kereta Gunungjati merapat. Proses face
recognition kulalui dengan wajah datar. Keputusanku berangkat
awal terbukti tepat, keretaku datang lebih cepat. Namun, saat
tubuh kereta mulai bergerak meninggalkan peron, pertahananku
runtuh. Tangisku pecah di balik masker. Bukan karena takut
tertinggal kereta, tapi karena sadar betapa sepinya berjuang
sendirian dalam sebuah hubungan yang katanya berdua.
Cirebon menyambutku dengan pelukan yang jauh lebih
hangat dari Jakarta. Keluargaku adalah rumah yang sesungguhnya.
Sebelum benar-benar pulang, kami menyempatkan diri ke pusat
perbelanjaan. Di sela-sela tawa keponakanku, aku membuka
ponsel. Farras mengirim pesan panjang penjelasan, permintaan
maaf, dan janji penebusan. Namun, sesuatu dalam diriku sudah
patah. Emosiku meluap kembali, lebih dingin kali ini. Aku
mengetik kata putus, memblokir aksesnya di WhatsApp, dan
menutup pintu di media sosial. Tak lama, sebuah SMS klasik
masuk. Barangkali jalur terakhir yang tersisa.
“Selamat tinggal Gina, semoga dapet yang lebih perfect.”
307

