Page 305 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 305

BAB 57 :  PRESENDENSI LUKA


             15 Februari 2026: Elegi di Peron Sunyi


               Pagi ini, langit Jakarta menyerupai kanvas yang tumpah; abu-

          abu, pekat, dan muram. Hujan turun dengan ambisi yang besar,
          seolah-olah  matahari  memang  tak  diberi  izin  untuk  sekadar

          menyapa. Hari ini aku seharusnya pulang ke Cirebon, membawa

          rindu yang sudah lama menumpuk untuk keluarga. Farras berjanji
          akan mengantarku, sebuah janji manis yang kini terasa hambar di

          lidah.

               Pukul  06.00  WIB.  Layar  ponselku  masih  gelap,  tanpa
          notifikasi, tanpa tanda-tanda kehidupan darinya. Keretaku akan

          melaju pukul 09.00, namun kepanikan sudah lebih dulu berangkat
          di dadaku. Tiga puluh panggilan keluar adalah monumen kesia-

          siaan  yang  kubangun  pagi  ini.  Aku  hafal  ritme  hidupnya—dia

          adalah penguasa mimpi di akhir pekan, apalagi setelah semalam
          ia habiskan waktu bersama kawan-kawannya hingga larut.

               Setengah tujuh pagi. Masih hening. Amarah mulai merambat
          pelan  di  balik  rasa  cemas.  Haruskah  aku  menunggu  sebuah

          ketidakpastian?  Jarak  rumahnya  ke  tempatku  bukan  sekadar

          angka  di  peta;  butuh  empat  puluh  menit  di  tengah  kemacetan
          Jakarta  yang  tak  pernah  ramah,  belum  lagi  perjalanan  menuju



                                                                        305
   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310