Page 311 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 311
namun hatiku jauh lebih payah. Di tengah hiruk-pikuk ruang
tunggu, sepasang mataku masih saja berkhianat, ia sibuk menyisir
kerumunan, mencari sosok Farras.
Logikaku tertawa miris, "Mana mungkin ia datang? Dia
pelupa, Gina. Jadwal keretamu pasti sudah menguap dari
kepalanya".
Namun, harapan adalah penyakit yang sulit sembuh. Aku terus
mencari sambil mati-matian menelan isak agar tidak pecah di
depan orang asing.
Jakarta sore itu terasa asing sekaligus terlalu akrab.
Sepanjang jalan menuju kost, tatapanku kosong menyapu aspal.
Jalanan ini, lampu merah ini, sudut-sudut kota ini, semuanya
punya suara yang memanggil namanya. Di lampu merah, aku
melihat sepasang kekasih di atas motor, sang perempuan
memeluk erat pinggang lelakinya sambil tertawa lepas. Dulu, itu
adalah kita. Sekarang, aku hanya orang asing yang menyaksikan
bayanganku sendiri di masa lalu.
Sesampainya di depan pintu kost, jemariku yang gemetar
merogoh saku backpack putihku. Namun, saat kunci itu ditarik
keluar, sebuah bunyi gemerincing kecil yang memilukan
terdengar. Manik-manik gantungan kunci pemberian Farras
terlepas, berserakan di lantai seperti kepingan hatiku.
311

