Page 320 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 320

Uda memang selalu ada di setiap musim sedihku. Pikiranku

          mendadak disergap rasa bersalah yang teramat sangat. Dulu, aku

          pernah dengan teganya meninggalkan Uda demi memilih Farras,
          tepat  di  saat  Uda  baru  saja  membelikanku  sebuah  jam  tangan

          sebagai hadiah manis. Namun kini, di saat aku hancur sekeping-
          kepingnya,  dialah  yang  mengulurkan  tangan.  Saat  itu,  Farras

          memang tidak memberi celah pada siapapun untuk mendekatiku.

          Dia selalu memantauku pagi dan malam.
               Malam itu, makanan yang kubeli sama sekali tidak tersentuh.

          Aku hanya sanggup meneguk sedikit air putih demi membatalkan

          puasa. Rasanya, jangankan makanan, air pun terasa begitu kesat
          dan  enggan  melewati  tenggorokanku.  Hati  dan  duniaku  benar-

          benar  hancur  malam  itu.  Namun,  di  balik  pekatnya  malam

          Ramadhan yang kelam, Tuhan menyisipkan kebaikan-Nya melalui
          Uda.  Dia  setia  menemaniku  lewat  sambungan  telepon,

          mendengarkan sisa-sisa tangisku hingga perlahan hatiku tenang,

          dan mataku terpejam memasuki dunia tidur.


          Epilog: Sebuah Jawaban di Balik Tabir Istikharah

               Kini,  saat  jemariku  menari  di  atas  baris-baris  kalimat  ini,
          menuliskan  kembali  babak  paling  menyakitkan  dalam  hidupku,

          aku tidak lagi menyimpan dendam. Waktu telah membuka tabir


                                                                        320
   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325