Page 325 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 325
"Bang, ini pudingnya dimatengin ya. Dia enggak suka yang
setengah matang ," seru Uda tiba-tiba kepada salah satu pelayan,
tanpa perlu aku meminta.
Bersamanya, aku selalu diperlakukan bak seorang putri. Ia
selalu menjamin keamananku, membawaku ke tempat-tempat
yang kusukai, dan mendekapku dengan segala kenyamanan.
Namun, di balik semua perlakuan manis itu, hatiku terlanjur
mengunci sebuah batas: kebaikannya hanya mampu kuartikan
sebagai rasa sayang seorang kakak kepada adiknya. Tidak bisa
lebih.
Kami menikmati makan malam diiringi obrolan santai yang
diselingi tawa. Sekitar pukul delapan malam, denting gitar dari
live music mulai menggema di sudut kedai. Kami berdua larut
dalam untaian lirik lagu yang mengalun. Di tengah riuh rendah
suara di sekitar, aku menyandarkan kepalaku pada bahu Uda.
Namun, tepat di detik itu, ada rasa sesak yang menghimpit dada.
Sebuah rasa bersalah yang tak bisa kubohongi, seolah-olah aku
sedang mengkhianati dan menyelingkuhi Farras, pria yang
coretan namanya masih terlalu pekat di hatiku.
Tiba-tiba, iPhone milik Uda berdering. Sebuah panggilan
masuk dari temannya terdengar, menanyakan keberadaannya
malam ini.
325

