Page 362 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 362
bagaimana tempo hari aku harus menyeret langkah kakiku
sendirian menuju stasiun, menembus keramaian tanpa kehadiran
Farras di sisiku. Bagi Mamah, Farras adalah ksatria yang selama ini
terlihat begitu memuja dan melindungiku. Mengetahui bahwa
Farras tega membiarkanku berjalan tertatih dalam kesendirian
adalah sebuah anomali yang telak melukai naluri keibuannya.
Aku berusaha menjahit kembali kepingan kepercayaan yang
robek itu dengan suara yang bergetar. Kujelaskan pada Mamah
dengan hati-hati, betapa rasa rendah diri dalam diri Farras telah
menjelma menjadi tembok raksasa yang dingin. Tembok yang
membuatnya merasa kerdil dan tak lagi pantas bersanding
denganku. Mamah mencoba memahaminya, mengangguk pelan,
namun pendar kecewa di matanya tak bisa berdusta. Sejenak
kemudian, Mamah membisikkan sebuah kenyataan yang seketika
mencekik rongga dadaku: tentang Bapak. Di balik sosoknya yang
pendiam dan pelindung, Bapak rupanya telah menenun mimpi-
mimpi yang begitu jauh nan indah. Bapak sudah melukiskan hari-
hari tuanya yang damai, membayangkan masa di mana ia akan
berkunjung ke rumah kami kelak, menghabiskan sore sambil
bercengkerama dan menimang cucu dariku yang begitu ia
dambakan.
362

