Page 391 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 391
Setiap hari, alam bawah sadarku seolah mengejekku dengan
mimpi-mimpi tentang pesan singkat dari Farras. Dan saat aku
melihat namanya muncul di daftar penonton ceritaku,
pertahananku runtuh seketika. Aku menangis, bukan karena
sedih, tapi karena rasa bahagia yang menyesakkan. Betapa
ironisnya kami, dulu komunikasi kami mengalir tanpa jeda,
namun sekarang, hanya dengan melihatnya "hadir" secara virtual
melalui sebuah story, aku sudah merasa sangat cukup.
Kebahagiaanku kini sesederhana itu, meski hatiku tahu, kita tak
lagi sedekat dulu.
Namun, ketenangan itu ternyata serapuh kaca. Aku
terbangun lagi dari tidur yang tak nyenyak, dan aku secara refleks
meraih ponsel, mencari nama Farras di antara daftar penonton
cerita pendekku. Nihil, namanya tak ada di sana. Seketika
pikiranku berkelana: apakah dia membisukan story whatsappku?
Ataukah ia begitu kelelahan karena pekerjaan hingga tak sempat
melihat duniaku? Sebelum memejamkan mata tadi, aku sempat
merasa hampir sembuh. Namun nyatanya, hari demi hari aku
justru merasa kian sekarat dari dalam.
Kehilangan Farras bukan sekadar kehilangan seseorang,
melainkan runtuhnya seluruh skenario masa depan yang telah
kususun rapi di kepala. Dalam bayangan itu, ada kami, dan ada
391

