Page 387 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 387

kembali menapaki lantai kantor, setelah empat belas hari lamanya

          aku bersembunyi di balik masa liburku. Namun, pantulan realita

          di  mata  teman-temanku  tidak  bisa  diajak  berbohong.  Mereka
          menatapku dengan sorot iba yang tak tertutupi, menyadari raga

          ini  yang  kian  hari  kian  menyusut  termakan  pikiran,  serta  raut
          wajah yang meredup kehilangan pendar cahayanya.


          "Ko  keliatannya  sedih  gitu?" tanya  mereka,  sebuah  pertanyaan
          sederhana yang entah mengapa terasa bagai sembilu.
          Aku  hanya  mampu  mengukir  senyum  tipis  di  bibir,  sebuah

          lengkungan  palsu  untuk  menutupi  rongga  dada  yang  hancur.

          Lidahku  kelu,  tak  mampu  menjelaskan  pada  mereka  bahwa
          sepasang kantung mata yang menghitam ini adalah saksi paling

          bisu  dari  malam-malam  panjang  yang  kuhabiskan  sendirian,

          terkikis oleh air mata yang tak henti mengalir.
               Menjelang senja, ketika waktu maghrib perlahan mendekat,

          kenangan itu kembali mengetuk pintu ingatanku tanpa permisi.

          Biasanya, di setiap  helaan  puasa sunnahku  di masa lalu, Farras
          adalah sosok yang paling setia menanti waktu berbuka. Kehadiran

          Farras  di  seberang  sana  selalu  menemani  setiap  tegukan  air

          pertamaku  yang  membasahi  kerongkongan.  Kini,  tak  ada  lagi
          sosoknya.  Namun  anehnya,  di  tengah  pusaran  memori  yang

          menyiksa  itu,  hari  ini  pelupuk  mataku  tak  lagi  menitikkan  air


                                                                        387
   382   383   384   385   386   387   388   389   390   391   392