Page 416 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 416

langsung dibanjiri sanjungan. Bahkan, teman-temanku yang lahir

          dan besar di NTT turut memberikan validasi, mereka bilang kain

          itu  seolah  menemukan  tuannya  padaku.  Hari  itu,  aku  merasa
          begitu hidup, berselimut hangatnya apresiasi.

               Euforia hari kartini terus berlanjut. Namun, semesta gemar
          bercanda dengan cara yang kejam. Tepat di tengah hari, sebuah

          panggilan dari kantor pusat memecah euforia. Melalui sambungan

          telepon itu, sebuah kabar mendarat seperti hantaman godam: aku
          dipaksa  keluar  dari  Jakarta.  Detik  itu  juga,  duniaku  mendadak

          hening. Aku terdiam, jiwaku seolah mati rasa mencoba mencerna

          kenyataan yang teramat pahit.
               Pikiran pertamaku langsung tertuju pada satu nama: Farras.

          Pindah  berarti  aku  harus  mengemas  seluruh  hidupku,

          meninggalkan kota ini, dan merelakan kemungkinan bahwa aku
          tidak  akan  pernah  bisa  menemui  Farras  lagi.  Dadaku  seketika

          sesak,  udara  di  sekitarku  mendadak  menipis  hingga  nafasku

          terasa tercekik. Aku benar-benar tidak sanggup.
               Padahal, Mei sudah di ambang pintu. Bulan yang selama ini

          kunantikan  untuk  menyambut  Farras  kembali  ke  pelukan.

          Nyatanya, semesta dengan tegas menutup pintu persatuan kami.
          Badai  yang  menerpaku  kemarin  saja  sudah  menguras  habis

          seluruh energiku hingga berat badanku merosot tajam, dan kini,


                                                                        416
   411   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421