Page 420 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 420
"Tiap ada masalah larinya ke kuliah, ngga boleh kayak gitu terus.
Kita butuh duit," tukasnya.
Kalimatnya logis, ia benar. Namun, Farras tidak pernah tahu
bahwa keputusanku bukanlah pelarian yang egois. Aku tidak bisa
menceritakan detail luka yang sedang menganga lebar di dalam
dadaku. Ia tak pernah tahu betapa dalamnya jurang yang sedang
kuhadapi. Melihatku yang tetap bersikeras, ia akhirnya
menyarankan agar aku mengambil jurusan manajemen.
Setelah itu, percakapan kami mengering. Obrolan malam itu
terasa begitu singkat dan hambar. Ada rasa asing yang merayap di
dadaku, seolah-olah aku tidak sedang berbicara dengan lelaki
yang kucintai, melainkan dengan seorang asing yang kebetulan
lewat di hidupku.
Saat sambungan telepon itu terputus, aku menarik napas
dalam-dalam. Kupilih untuk melipat sendiri semua kesedihan ini,
menyimpannya rapat-rapat di sudut tergelap dalam benakku,
tanpa perlu lagi membaginya dengan dia yang kini terasa sejauh
bintang di langit.
420

