Page 424 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 424
"Yaudah, sama. Apalagi aku cewek. Aku juga baru kali ini nangis".
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang sanggup kuucapkan
dengan sisa kekuatanku. Jujur, ada rasa kecewa yang teramat perih
menyelusup ke dada mendengar responsnya. Kalimat-kalimat
darinya terasa seumpama tamparan keras yang menyadarkanku:
berhentilah menangis dan mengemis ketenangan di hadapannya.
Tak berselang lama, dengan tangan bergetar, aku memutus
sambungan telepon itu.
Padahal, yang aku inginkan malam itu sangatlah sederhana.
Aku hanya ingin dia menenangkanku. Aku tahu dia sedang hancur
dan tersesat akibat badai finansial yang mengimpitnya. Namun, di
saat yang sama, dia tidak pernah tahu bahwa aku di sini sedang
dihujani peluru tajam yang ditembakkan dari berbagai arah,
sendirian, tanpa perlindungan.
424

