Page 423 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 423
"Aku capek", jawabku lirih di sela isak tangis yang tertahan di
tenggorokan.
Sejujurnya, saat itu aku ingin sekali menumpahkan seluruh beban
yang bergelayut di pundakku ke dalam dekapannya. Aku
membutuhkan dia sebagai pasokan oksigen untuk jiwaku yang
megap-megap, karena bagaimanapun retaknya hubungan kami,
sejauh ini Farras tetaplah rumah tempatku ingin pulang. Namun,
di sisi lain, aku pun tahu bahwa dia sendiri sedang tertatih-tatih
menghadapi masalahnya sendiri.
Bahkan, teman-temanku yang kebetulan melihat rapuhnya
wajah asliku malam itu tak mampu menyembunyikan rasa iba.
Mereka menyaksikan bagaimana satu demi satu badai kehidupan
menghantamku secara simultan. Padahal, satu badai saja sudah
cukup untuk membuat manusia mana pun hancur berkeping-
keping. Sementara aku? Aku harus memikul empat badai besar
sekaligus sendirian, menguji batas akhir dari sebuah kewarasan.
"Nggak boleh cengeng. Namanya juga hidup, Gina. Nikmati aja",
sahut Farras dari seberang telepon. Sebuah kalimat yang alih-alih
memeluk, justru terasa seperti angin dingin.
"Kamu aja cengeng", jawabku spontan, mencoba mencari
pembelaan di tengah kerapuhanku.
"Kan kekuatan orang beda-beda", dalihnya, membela diri.
423

