Page 29 - Pendidikan Pancasila SMA Kelas XI
P. 29
Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Kawal Resimen
Cakrabirawa, yaitu Pasukan Khusus Pengawal Presiden, memimpin
sekelompok pasukan dalam melakukan aksi bersenjata di Jakarta. Pasukan
bergerak meninggalkan daerah Lubang Buaya. Peristiwa ini terjadi pada
tengah malam, pergantian hari Kamis, tanggal 30 September 1965 menuju
hari Jumat, tanggal 1 Oktober 1965.
Kudeta yang sebelumnya dinamakan Operasi Takari diubah menjadi
Gerakan 30 September. Mereka menculik dan membunuh para perwira
tinggi Angkatan Darat. Aksi tersebut pada tanggal 30 September 1965
menculik enam orang perwira tinggi Angkatan Darat. Enam Jenderal
yang gugur dalam aksi bersenjata PKI adalah Letnan Jenderal Ahmad
Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo
Haryono, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Brigadir Jenderal Donald
Isaac Panjaitan, Mayor Jenderal Siswondo Parman, dan Letnan Satu
Pierre Andreas Tendean yang merupakan ajudan Menhankam/Kasab
Jenderal Nasution.
Letjen. A. Yani Mayjen. R. Soeprapto Mayjen. Harjono Brigjen Soetojo
Brigjen D.I. Panjaitan Mayjen. S. Parman Lettu P.A. Tendean
Sumber: https://bit.ly/3LOmKxP
Gambar 1.9 Pahlawan Revolusi
Selain ketujuh Pahlawan Revolusi, pengawal Wakil Perdana
Menteri II, Dr. J. Leimena, yaitu Brigadir Polisi Satsuit Tubun juga gugur
dalam peristiwa tersebut. Peristiwa pemberontakan PKI juga terjadi di
Yogyakarta. Pahlawan Revolusi yang gugur di Yogyakarta adalah Brigadir
Jenderal Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto.
Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya gerakan yang menewaskan
para perwira tinggi tersebut adalah ketidakharmonisan hubungan antara
anggota TNI dengan PKI. Para perwira tinggi TNI Angkatan Darat
dianggap menentang dan menghalangi gerakan PKI. Di samping itu,
penyebarluasan ideologi komunis oleh PKI berupaya untuk mengganti
atau mengubah dasar negara Pancasila.
Bab I Menerapkan Sila-Sila Pancasila 15