Page 45 - Ten Myths about Israel
P. 45
Napoleon Bonaparte yang berharap mendapatkan bantuan dari
komunitas Yahudi di Palestina dan penduduk lain di wilayah
tersebut agar dapat menduduki Timur Tengah pada awal abad
kesembilan belas. Ia menjanjikan mereka untuk “kembali ke
Palestina” dan membentuk sebuah negara. Seperti yang dapat
14
kita lihat, Zionisme merupakan ide kolonisasi dari kalangan
Kristen sebelum menjadi proyek Yahudi.
Tanda-tanda buruk tentang bagaimana keyakinan yang
semula tampak religius dan mistis semata ini berubah menjadi
program kolonisasi dan perampasan nyata muncul di Inggris
Era Victoria, awal 1820-an. Sebuah gerakan teologis dan imperial
yang kuat muncul dan menempatkan ide kembalinya orang-
orang Yahudi sebagai inti dari rencana strategis untuk mengambil
alih Palestina dan mengubahnya menjadi entitas Kristen. Pada
abad kesembilan belas, sentimen ini menjadi semakin populer
di Inggris dan memengaruhi kebijakan resmi kerajaan, “Tanah
Palestina … tinggal menunggu kembalinya anak-anaknya
yang dibuang, dan penerapan industri, yang sepadan dengan
kemampuan pertanian, akan meledak sekali lagi, menuju
kemewahan universal dan menjadi segalanya, seperti pada zaman
15
Salomo.” Demikianlah tulisan negarawan dan komandan militer
Skotlandia, John Lindsay. Sentimen ini juga diamini oleh David
Hartley, seorang filsuf Inggris, yang menulis, “Ada kemungkinan
bahwa orang-orang Yahudi akan diinisiasi kembali ke Palestina.” 16
Proses ini tidak sepenuhnya berhasil sebelum mendapat
dukungan dari Amerika Serikat. Di sini juga terdapat sejarah
yang mendukung gagasan bahwa bangsa Yahudi mempunyai hak
untuk kembali ke Palestina dan membangun Zion. Pada saat yang
sama ketika umat Protestan di Eropa mengutarakan pandangan-
Bangsa Yahudi, Bangsa Tanpa Tanah Air 17

