Page 42 - Ten Myths about Israel
P. 42
(Sungai Litani di utara, Sungai Yordan di timur, dan Laut Tengah
di barat) menyatukan tiga subprovinsi, yaitu Beirut Selatan,
Nablus, dan Yerusalem, ke dalam satu unit sosial dan budaya.
Ruang geopolitik ini memiliki dialek utama, adat istiadat, cerita
rakyat, dan tradisinya sendiri. 9
Oleh karena itu, Palestina pada 1918 menjadi lebih bersatu
dibandingkan pada masa Utsmani. Namun, masih terdapat
perubahan lebih lanjut. Sembari menunggu persetujuan dunia
internasional atas status Palestina pada 1923, pemerintah Inggris
melakukan pengaturan ulang mengenai batas-batas wilayah
tersebut. Negosiasi tersebut menciptakan ruang geografis yang
lebih jelas bagi perjuangan pergerakan nasional. Rasa memiliki
(sense of belonging) masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut
pun semakin besar. Kini, sudah jelas apa itu Palestina. Yang tidak
jelas adalah Palestina milik siapa, penduduk asli Palestina atau
pemukim baru Yahudi? Ironi terakhir dari rezim administratif
Inggris adalah tindakan pengaturan ulang perbatasan, yang
membantu gerakan Zionis untuk mengonseptualisasikan Eretz
Israel (Israel Raya) secara geografis dan hanya orang Yahudi-lah
yang berhak atas tanah dan sumber dayanya.
Dengan demikian, Palestina bukanlah sebuah negeri
kosong. Ia adalah bagian dari dunia Mediterania Timur yang
kaya dan subur pada abad kesembilan belas. Kemudian, area
itu mengalami proses modernisasi dan nasionalisasi. Wilayah
tersebut bukanlah gurun kosong yang menunggu untuk mekar;
ia adalah negara pastoral yang siap memasuki abad ke-20 sebagai
masyarakat modern dengan segala kelebihan dan kekurangan
dari transformasi tersebut. Penjajahan Palestina oleh gerakan
Zionis mengubah kesiapan ini menjadi bencana bagi mayoritas
penduduk asli yang tinggal di sana.
14 Ten Myths about Israel

