Page 41 - Ten Myths about Israel
P. 41
yang lebih lokal dan disebut wataniyya dalam bahasa Arab.
Akibatnya, Palestina mulai melihat dirinya sebagai negara Arab
yang merdeka.
Tanpa kemunculan Zionisme, Palestina kini mungkin akan
mengalami nasib yang sama seperti Lebanon, Yordania, atau
7
Suriah serta merangkul proses modernisasi dan perkembangan.
Sebenarnya, hal ini sudah dimulai pada 1916 sebagai hasil dari
kebijakan Utsmani pada akhir abad ke-19. Pada 1872, ketika
pemerintah Istanbul mendirikan Sanjak (sebutan untuk
provinsi administratif) Yerusalem, mereka menciptakan
ruang geopolitik yang kohesif di Palestina. Untuk sesaat, para
penguasa di Istanbul bahkan mempertimbangkan kemungkinan
menambah sebagian besar wilayah Palestina yang kita kenal
sekarang, serta subprovinsi Nablus dan Akka ke dalam Sanjak
Yerusalem. Seandainya mereka melakukan hal ini, Utsmaniyah
akan menciptakan sebuah unit geografis yang menghasilkan
nasionalisme terlebih dahulu, seperti yang terjadi di Mesir. 8
Namun, bahkan dengan pembagian administratif menjadi
dua, yaitu utara (yang diperintah oleh Beirut) dan selatan (yang
diperintah oleh Yerusalem), tindakan ini mengangkat Palestina
secara keseluruhan di atas batas administrasi sebelumnya. Pada
saat itu, Palestina hanya dibagi menjadi beberapa subprovinsi
kecil. Pada 1918, pemerintahan Inggris menyatukan utara dan
selatan menjadi satu unit. Menggunakan cara yang sama dan
masih dalam kurun tahun yang sama, Inggris membangun
fondasi negara Irak modern ketika mereka menyatukan tiga
provinsi Utsmaniyah, yakni Mosul, Baghdad, dan Basrah, menjadi
sebuah nation-state modern. Tidak seperti di Irak, hubungan
kekerabatan penduduk Palestina dan batas-batas geografis
Palestina Dulu Tanah Kosong 13

