Page 34 - Cikal Cerita rakyat dari DIY
P. 34

5. Di Puncak Ketenaran














                          Malam Rabu Legi pun sampailah. Pendopo Kadipaten Calapar tampak
                  sudah dipenuhi oleh para nayaka praja (pegawai kadipaten). Mereka duduk
                  bersila,  setengah  lingkaran  mengitari  lantai  pendopo  itu.  Sementara  itu,
                  Gusti Adipati Prasangkara, isteri, dan puterinya, Sekar Pandan, berada di

                  ujung lingkaran itu. Rombongan tari tledhek menata diri di sebelah kanan
                  Gusti Adipati Prasangkara.

                          Lampu-lampu  damar  yang  ditaruh  di  beberapa  tempat  membuat

                  ruangan  pendopo  itu  diterpa  oleh  sinar  yang  elok.  Kadang-kadang  lampu
                  damar  di pendopo  itu  diterpa  angin  lembut  sehingga  sinarnya  meliuk-liuk
                  seperti sebuah tarian.


                          “Malam  ini,  kita  bersama  akan  menyaksikan  tarian  tledhek.  Tarian
                  ini akan dibawakan oleh penari remaja Sekargunung dan Sriyanti. Mereka
                  diundang menari di sini karena puteriku, Sekar Pandan, menginginkannya,”
                  ungkap Gusti Adipati Prasangkara.


                          Sambutan  yang  disampaikan  oleh  pemimpin  Kadipaten  Calapar  itu
                  bergema di pendopo itu. Yang hadir di ruangan itu mulutnya seperti terkunci
                  oleh gerendel yang besar.


                          “Semoga  dua  orang  penari  ini  dapat  memberikan  kegembiraan  dan
                  kesembuhan  untuk  anakku.  Tarian  tledhek  yang  kudatangkan  ini  berbeda
                  dengan tarian tledhek lainnya. Siapa pun tidak diperkenankan menari di sini

                  kecuali para penarinya.”












                                                          29
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39