Page 35 - EBOOK BIOLOGI SMA KELAS X
P. 35

pengangkut kecil. Karena daun amat kecil, batang dan cabang – cabangnya yang mempunyai

               fungsi  sebagai  asimilator,  tampak  berwarna  hijau  karena  mengandung  klorofil.  Diantara
               warga  Equisetales  terdapat  beberapa  jenis  yang  mempunyai  semacam  umbi  untuk

               menghadapai kala yang buruk, ada pula yang tetap berwarna hijau.
                       Sporofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendeknya ruas – ruas

               pendukung  sporofil,  maka  rangkaian  sporofil  terkumpul  menyerupai  suatu  kerucut  pada
               ujung  batang.  Sporofil  berbentuk  perisai  atau  meja  dengan  satu  kaki  di  tengah,  dengan

               beberapa sporangium berbentuk kantung pada sisi bawahnya.

                   Jaringan sporogen mula – mula diliputi oleh dinding yang terdiri atas beberapa lapis sel.
               Seperti  biasanya,  dinding  sel  –  sel  dalam  (tupetum)  terlarut,  plasmanya  merupakan

               periplasmodium  yang  masuk diantara spora  –  spora, dan habis terpakai untuk pembentkan

               dinding spora. Jika spora telah  masak, sporangium  hanya  mempunyai dinding  yang terdiri
               atas  selapis  sel  saja.  Sel  –  selnya  mempunyai  penebalan  berbentuk  spiral  atau  cincin.

               Sporangium  yang  telah  masak  pecah  menurut  suatu  retak  pada  bagian  dinding  yang
               menghadap ke dalam. Retak itu terjadi karena pengaruh kekuatan kohesi air yang menguap

               dan berkerutnya dinding sel yang tipis pada waktu mengering.
                   Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosporium, dan di samping itu

               masih mempunyai perisporium yang berlapis – lapis. Lapisan perisporium yang paling luar

               terdiri  atas  dua  pita  sejajar  yang  dalam  keadaan  basah  membalut  spora.  Pita  itu  ujungnya
               agak melebar seperti lidah. Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan

               tetapi   kurang lebih ditengah – tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya
               pita yang memperlihatkan gerakan higroskopik itu, pemencaran spora dipermudah, dan itu

               kemungkinan adanya beberapa spora yang selalu berganden – gandengan amatlah besar, dan
               bila  spora  dan  jath  di  tempat  yang  amatlah  besar,  dan  bila  spora  jatuh  di  tempat  yang

               berdekatan,  tentulah  dalam  perkembangan  selanjutnya  protalium  akan  berdekatan  pula

               dengan protalium.
                   Pada  perkecambahan  spora,  rhizoid  kelar  dari  bagian  yang  tidak  menghadap  sinar

               matahari. Sel – sel lainnya berkembang terus mejadi bagian protalim yang berwarna hijau.

               Protalium  berupa  talus  yang  bercabang  –  cabang,dapat  berumah  satu,  tetapi  biasanya
               berumah  dua.  Anteridium  terbenam  dalam  protalium  dan  mengeluarkan  spermatozoid

               berbentuk sekrup dengan banyak bulu cambuk.
                       Zigot mula – mula membelah menjadi dua sel, tetapi berlainan dengan Lycopodium,

               pada Equisetales tidak terbentuk suspensor, melainkan kedua sel itu membelah – belah lagi,
               lagi. Embrio  pada Equisetales  letaknya eksokopik, tunas  mempunyai  sel ujung  berbentuk


                                                                                                       34
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40