Page 42 - SD_Danau Laut Tador
P. 42

Lalu,  ayah  dan  ibu  Tador  pun  bertengkar.  Mereka
            berdua silang pendapat di depan Tagor. Suara mereka

            keras. Tador pun menangis tambah keras.
                 “Sudahlah, Tador sudah biasa di rumah!” bentak

            ayah.
                 “Tetapi, dia sakit,” balas ibu.

                 “Karena sakitlah dia harus di rumah!”
                 “Aku  kasihan  sama  Tador,  Ayah!  Selama  ini  dia

            kita  tinggal,  mengapa  sekarang  dia  kita  tinggal  juga?
            Sementara kita pergi marpangir ….”

                 “Kau  mau  dia  tambah  sakit?  Kau  mau  kita  tidak
            bisa marpangir dan sibuk menjaga dia di pinggir sungai?

            Atau, kau mau kita tidak marpangir dan menjaga Tador
            di rumah?” bentak ayah lagi.

                 Ibu diam. Beberapa menit kemudian, ibu mengalah.
            Ibu  pun  membujuk  dan  menenangkan  Tador.  Akan

            tetapi, tetap saja seperti semula, Tador tetap tidak mau
            ditinggal sendiri di rumah.

                 Sekian  menit  dibujuk,  Tador  tidak  berubah.  Dia
            tetap  saja  tidak  mau  ditinggal.  Tador  tetap  mau  ikut

            marpangir, tetap mau makan gulai ikan dan sayur daun
            papaya kesukaannya di pinggir sungai, dan tetap ingin

            mandi air sungai bersama kawan-kawan sekampung.



                                        34
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47