Page 43 - SD_Danau Laut Tador
P. 43

Kedua orang tuanya tidak sabar. Mereka berpikir
            harus  tetap  marpangir.  Wajah  keduanya  pun  mulai

            suntuk.  Ibu  yang  sebelumnya  sempat  membela  Tador
            tampak mulai berubah. Tatapannya sudah mulai marah.

            Dia  pandang  Tador  dengan  tajam.  Tador  semakin
            bertingkah.  Tangisnya  makin  membahana.  Hentakan

            kakinya makin keras. Benturan kepalanya ke dipan pun
            makin terdengar. “Sudahlah Tador!” bentak ibu.

                 Tador tidak diam. Tador tidak takut. Tador makin
            menambah suara tangisnya.

                 “Tador ’kan sudah biasa ditinggal. Sudah biasa di
            rumah sendirian. Tador juga sedang sakit. Tador harus

            istirahat!” bentak ibu lagi.
                 “Tador mau ikut, Bu …!” teriak Tador.

                 Ibu berbalik badan. Ayah sudah di depan pintu. Di
            tangannya  bekal.  Di  tangannya  nasi,  gulai  ayam,  dan

            sayur daun pepaya. Posisi badannya sudah mau keluar
            rumah.

                 Tador makin menangis. Ibu mulai berjalan. Tador
            makin menangis. Ayah melewati pintu. Tador berteriak.

                 Tega  tidak  tega,  akhirnya  ayah  dan  ibu  pergi
            meninggalkan  Tador  sendirian  di rumah.  Mereka

            mengunci  rumah  rapat-rapat  agar  Tador  tidak  dapat



                                          35
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48