Page 21 - BUKU Neraca Bahan Makanan Tahun 2024
P. 21
Komoditi pangan diatas memberikan kontribusi pada ketersediaan
pangan sebagai bahan konsumsi dimasyarakat di suatu daerah. Kondisi
ketersediaan pangan yang didikung oleh masing masing kelompok pangan
dapat dilihat pada Tabel 7. dibawah ini:
Tabel 7. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tingkat Ketersediaan.
Kelompok
Skor
Energi
No Bahan (Kalori) % AKG Bobot Skor Ril Skor Maks Ket
PPH
Pangan
1 Padi-padian 1.808 75,3 0,5 37,67 25,00 25,0 +
2 Umbi-umbian 50 2,1 0,5 1,05 1,05 2,5 -
Pangan
3 145 6,1 2,0 12,12 12,12 24,0 -
Hewani
Minyak dan
4 224 9,3 0,5 4,67 4,76 5,0 -
Lemak
Buah/biji
5 27 1,1 0,5 0,56 0,56 1,0 -
berminyak
Kacang-
6 248 10,3 2,0 20,69 10,00 10,0 +
kacangan
7 Gula 86 3,6 0,5 1,80 1,80 2,5 -
Sayuran dan
8 148 6,2 5,0 30,79 30,00 30,0 +
buah
Lain-lain
9 - - - - - - -
(Rumput laut)
Jumlah 2.738 114,1 109,36 85,21 100,00
(Data Berdasarkan Neraca Bahan Makanan Kab. Sarolangun Tahun 2024)
Tabel 7 diatas menunjukkan jumlah ketersediaan kalori di Kabupaten
Sarolangun pada tahun 2024 sebesar 2.738 kkal/kap/hr, menunjukkan bahwa
ketersediaan energi surplus sebesar 338 kkal/kap/hr. Berdasarkan klasifikasi
Tingkat Kecukupan Energi menurut Departemen Kesehatan Tahun 1996,
dapat dikategorikan bahwa kondisi ketersediaan energi Kabupaten
Sarolangun pada tahun 2024 termasuk dalam klasifikasi surplus ( diatas
AKG) atau berada pada posisi aman.
Ketersediaan energi kelompok pangan umbi-umbian sebasar 50
kkal/kap/hr, kontribusi pangan ini berasal dari ubi kayu dan ubi jalar.
Selanjutnya pangan umbi-umbian dari tahun ketahun harus mampu
menyediakan pangan secara kontiniu, sehingga sumbangan energi dari
umbi-umbian tetap terjaga untuk dikonsumsi oleh setiap penduduk.
17