Page 193 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 193
Sebagai kepala madrasah, peneliti berfungsi sebagai pemimpin
pendidikan (educational leader) yang mengarahkan visi, membina guru,
serta memastikan implementasi nilai-nilai spiritual dan sosial di lembaga
pendidikan. Menurut teori kepemimpinan instruksional dari Hallinger &
Murphy (1985), kepala sekolah memiliki peran strategis dalam
menciptakan budaya sekolah yang mendukung peningkatan mutu
pembelajaran dan moralitas pendidik. Dalam konteks madrasah,
kepemimpinan tersebut dilandasi oleh nilai amanah dan khidmah, yaitu
tanggung jawab moral untuk melayani umat, sejalan dengan konsep
wakaf dan hibah non-material dalam pendidikan Islam.
Lebih lanjut, teori transformational leadership dari Burns (1978) dan
dikembangkan oleh Bass (1990) menekankan bahwa pemimpin
pendidikan yang efektif bukan hanya mengatur administrasi, tetapi juga
menginspirasi, memotivasi, dan menanamkan nilai. Dalam konteks ini,
peneliti sebagai kepala madrasah berperan menginternalisasi nilai
keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial kepada seluruh warga
sekolah sehingga penelitian ini tidak hanya deskriptif, tetapi juga reflektif
terhadap praktik kepemimpinan yang dijalankan.
Dengan demikian, posisi peneliti sebagai guru dan kepala madrasah
tidak menimbulkan bias, melainkan memperkaya pemahaman terhadap
realitas sosial dan spiritual lembaga pendidikan Islam. Sebagaimana
dijelaskan oleh Moleong (2017), peneliti kualitatif yang terlibat langsung
dalam konteks penelitiannya justru mampu menangkap makna fenomena
secara mendalam karena ia memahami simbol, nilai, dan interaksi yang
hidup di dalamnya. Oleh sebab itu, penelitian ini merefleksikan kolaborasi
antara pengalaman profesional (praktik) dan analisis ilmiah (teori) dalam
memahami wakaf dan hibah guru sebagai bentuk kontribusi nyata
terhadap pemberdayaan sosial dan peningkatan mutu pendidikan
madrasah.
4.3.1.3 Batasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu
diperhatikan dalam menginterpretasikan hasil dan generalisasi penelitian.
a) Keterbatasan Waktu
Penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat,
sehingga pengumpulan data hanya mencakup periode tertentu dalam
tahun pelajaran berjalan. Kondisi ini membatasi kemungkinan peneliti
untuk melakukan observasi jangka panjang terhadap perubahan perilaku
guru atau perkembangan implementasi supervisi kepala madrasah
berbasis wakaf dan hibah.
b) Keterbatasan Tenaga
Peneliti yang sekaligus berperan sebagai guru dan kepala madrasah
memiliki tanggung jawab ganda dalam pelaksanaan tugas akademik dan
administratif. Situasi ini berdampak pada intensitas pengawasan langsung
serta keterlibatan dalam proses pendalaman data di lapangan. Meskipun
demikian, keterlibatan langsung ini juga memberikan pemahaman
kontekstual yang lebih mendalam mengenai fenomena yang diteliti.
c) Keterbatasan Dana
26

