Page 198 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 198

(pemeliharaan akal) dan ḥifẓ ad-dīn (pemeliharaan nilai agama)
                            melalui pendidikan berkualitas.
                            Menurut Yusuf al-Qaradawi (2001) dalam Fiqh al-Awlawiyyāt,
                        mendahulukan kemaslahatan umum merupakan bentuk kecerdasan
                        spiritual dan sosial, karena setiap individu Muslim dituntut untuk berperan
                        aktif memperkuat masyarakat. Dalam konteks madrasah, kepala sekolah
                        yang mengutamakan pengembangan lembaga, bukan kepentingan pribadi,
                        sedang menjalankan misi Wakaf ilmiah (pengabdian ilmu untuk umat).
                            Oleh karena itu, supervisi yang berorientasi pada peningkatan mutu
                        pendidikan dapat dipandang sebagai bentuk nyata dari Wakaf sosial, di
                        mana tenaga, pikiran, dan keikhlasan para pendidik diserahkan untuk
                        kemaslahatan umat dan keberlanjutan kualitas pendidikan Islam.
                                                                                             م ٍعِلَعحقِ قُعٍاعِيلعا

                                                                              (Al-‘ādah muḥakkamah)
                            “Kebiasaan dapat menjadi dasar hukum.”
                            Kaidah ini merupakan salah satu prinsip penting dalam uṣūl al-fiqh
                        yang menyatakan bahwa kebiasaan (‘urf atau ‘ādah) yang baik dan tidak
                        bertentangan dengan nash syar‘i (Al-Qur’an dan hadis) dapat dijadikan
                        dasar dalam menetapkan hukum dan kebijakan.
                            Menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam I‘lām al-Muwaqqi‘īn, syariat
                        Islam dibangun di atas prinsip keadilan, kemaslahatan, dan kebijaksanaan.
                        Oleh karena itu, ‘urf ṣaḥīḥ (kebiasaan yang baik dan tidak melanggar
                        syariat) memiliki kekuatan hukum, terutama dalam hal sosial dan
                        muamalah.
                            Hal serupa ditegaskan oleh al-Suyūṭī dalam al-Ashbāh wa al-Naẓā’ir,
                        bahwa kaidah ini termasuk al-qawā‘id al-kulliyyah al-khams (lima kaidah
                        besar fikih) yang sering digunakan untuk memahami perilaku sosial
                        masyarakat.
                            Dengan demikian, praktik yang telah menjadi tradisi positif dan
                        dilakukan terus-menerus dengan niat baik dapat memperoleh legitimasi
                        hukum Islam sebagai amal kebajikan (‘amal ṣāliḥ).
                            Dalam konteks supervisi pendidikan madrasah, kaidah al-‘ādah
                        muḥakkamah menjelaskan bahwa:
                        (1) Praktik guru dan kepala madrasah yang secara rutin dan sukarela
                            memberikan bimbingan, ide, serta tenaga untuk peningkatan mutu
                            pembelajaran, merupakan kebiasaan baik (‘urf ṣaḥīḥ) yang dapat
                            dinilai  sebagai    bagian    dari   amal    Wakaf     profesional.   Guru
                            mengabdikan waktu dan keahliannya untuk kemajuan lembaga tanpa
                            menuntut imbalan langsung, sehingga termasuk dalam bentuk Wakaf
                            non-material atau waqf al-ma‘rifah (wakaf keilmuan).
                        (2) Kebiasaan supervisi informal seperti diskusi pedagogik, pelatihan
                            internal, atau saling berbagi strategi mengajar yang dilakukan terus-
                            menerus menjadi bagian dari budaya madrasah yang menghidupkan
                            nilai ta‘āwun (tolong-menolong) dan iḥsān (berbuat kebaikan).
                        (3) Karena praktik ini telah menjadi kebiasaan positif dan mendukung
                            tujuan pendidikan Islam, maka secara syar‘i dapat dikategorikan
                            sebagai amal saleh berkelanjutan (ṣadaqah jāriyah), sebagaimana


                                                                                                     31
   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203