Page 195 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 195

Al-Syāṭhibī dalam al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah menegaskan
                        bahwa setiap amal sosial harus diarahkan untuk mencapai maqāṣid al-
                        syarī‘ah, yaitu menjaga agama (ḥifẓ ad-dīn), akal (ḥifẓ al-‘aql), dan
                        keturunan (ḥifẓ an-nasl). Supervisi yang dilakukan dengan semangat
                        ta‘āwun berkontribusi langsung terhadap ketiga tujuan tersebut, karena
                        membantu guru meningkatkan kualitas berpikir, spiritualitas, dan moralitas
                        peserta didik.
                             Sementara itu, al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menegaskan
                        bahwa ta‘āwun fī al-khayr (kerja sama dalam kebaikan) adalah bentuk
                        solidaritas spiritual yang memperkuat lembaga sosial dan pendidikan.
                        Kepala madrasah yang menumbuhkan budaya kerja kolaboratif sejatinya
                        sedang menerapkan nilai hibah sosial, yaitu memberi waktu, perhatian,
                        dan tenaga untuk keberhasilan bersama tanpa pamrih.

                        b) Dasar Hadis
                            Nilai hibah dan Wakaf juga dikuatkan oleh beberapa hadis Rasulullah
                        SAW, antara lain: Hadis tentang hibah sosial:
                                                                                  ع
                                                                     اوبِاعحعُ ا ي وعٍاعَعُ :عَاَ عٌلِعِ ع و لِييعِعَ ل ل ٰلِعَ ْلِلْلا
                                                                                                   لّ
                                                                                            ق
                        “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”
                        (HR. al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad, no. 594; Muslim)
                                Hadis ini memiliki makna mendalam tentang dimensi sosial dan
                        spiritual dari pemberian hibah (hadiah). Menurut penjelasan al-Nawawi
                        (Syarh Shahih Muslim), hibah bukan semata bentuk materi, tetapi
                        mencerminkan tawādu‘ (kerendahan hati) dan ukhuwah islāmiyyah
                        (persaudaraan Islam). Pemberian hadiah menjadi sarana memperkuat
                        hubungan sosial, menumbuhkan kasih sayang, dan menghilangkan rasa
                        iri di antara sesama.
                                Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bārī juga menjelaskan bahwa
                        hibah merupakan salah satu cara untuk ta’līf al-qulūb, yaitu melembutkan
                        hati dan mempererat persaudaraan. Dalam konteks lembaga pendidikan,
                        prinsip ini sangat relevan: praktik supervisi yang dilakukan dengan empati,
                        penghargaan, dan ketulusan hati akan menumbuhkan suasana kerja yang
                        harmonis dan kolaboratif antara kepala madrasah dan guru.
                                Sementara itu, al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menekankan
                        bahwa memberi hadiah, bantuan, atau dukungan kepada sesama tanpa
                        pamrih termasuk amal yang melahirkan mahabbah fillāh (cinta karena
                        Allah). Dalam perspektif pendidikan, hal ini dapat diartikan bahwa kepala
                        madrasah yang memberikan bimbingan, motivasi, dan penguatan kepada
                        guru sedang menjalankan bentuk hibah non-material yang bernilai ibadah
                        sosial.
                                Hadis ini juga berimplikasi pada etika supervisi pendidikan
                        madrasah, yakni bahwa hubungan kepala madrasah dan guru hendaknya
                        tidak hanya bersifat formal-administratif, tetapi juga dilandasi kasih sayang,
                        saling menghargai, dan semangat tolong-menolong dalam kebaikan
                        (ta‘āwun ‘alā al-birr wa at-taqwā). Dengan demikian, hibah sosial dalam
                        makna luas menjadi model komunikasi edukatif yang mendorong
                        terciptanya   budaya    kerja   yang   humanis,     penuh    keikhlasan,   dan
                        berorientasi pada pengembangan karakter.



                                                                                                     28
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200