Page 194 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 194
Penelitian ini dilaksanakan dengan sumber dana terbatas, sehingga
ruang lingkup kegiatan seperti jumlah responden, variasi lokasi madrasah,
serta pengolahan data pendukung belum dapat diperluas secara optimal.
Keterbatasan anggaran juga memengaruhi frekuensi kunjungan lapangan
dan penggunaan instrumen pendukung tambahan seperti wawancara
mendalam atau dokumentasi audiovisual.
Meskipun memiliki keterbatasan pada aspek waktu, tenaga, dan
dana, penelitian ini tetap memberikan kontribusi bermakna dalam
memahami penerapan nilai wakaf dan hibah dalam konteks supervisi
serta pemberdayaan guru di madrasah. Hasil penelitian ini diharapkan
menjadi dasar bagi studi lanjutan yang melibatkan waktu observasi lebih
panjang, tenaga peneliti yang lebih luas, dan dukungan pendanaan yang
memadai untuk memperdalam temuan yang telah diperoleh.
4.3.2 Mengkaji Dasar Syariah Wakaf dan Hibah serta Kaitannya
dengan Supervisi Pendidikan Madrasah
Konsep Wakaf dan hibah dalam Islam memiliki dasar syariah yang
kuat, mencakup dimensi spiritual, sosial, dan edukatif. Dalam konteks
supervisi pendidikan madrasah, kedua konsep ini mencerminkan nilai-nilai
pengabdian (khidmah), keikhlasan (ikhlāṣ), dan tanggung jawab
profesional yang menjadi fondasi etika kerja pendidik. Landasan syariah
ini bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan kaidah usul fiqih, serta diperkuat
oleh pandangan para ulama klasik dan kontemporer.
a) Dasar Al-Qur’an
Secara tekstual, dasar Wakaf dijelaskan dalam firman Allah SWT:
ع
مٌيلِعَ لِلِ ل ل لّلإف ءٍْعَ يّلِ اوقُلِيْقُ اعِ ع و عّوبِ ل حقُ الِلِ اوقُلِيْقُ ى ٰلُعح ل ّلِيلا اوقلاعْعُ يّعل
ع
ي
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna)
sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…"
(QS. Ali Imran [3]: 92)
Ayat ini menegaskan pentingnya itsār (pengorbanan) atas sesuatu
yang dicintai demi kemaslahatan bersama. Dalam konteks pendidikan
madrasah, pengorbanan ini dapat diwujudkan dalam bentuk Wakaf non-
material seperti waktu, tenaga, dan pengetahuan yang diberikan guru dan
kepala madrasah untuk kemajuan lembaga pendidikan.
Selain itu, nilai ta‘āwun (tolong-menolong) juga ditekankan dalam Al-
Qur’an:
ي ي
لّاعُلِيلا قٍيلٍعَ ل ل لّلإ ل ل اوقُلُا ع و ّا ع ويٍقِيلا ع و ل ٌث ل إا ٰعِعَ اوقْ ع واعِعُ ع ّ ع و ى ٰ ع ويُلُلا ع و لّ ّلِيلا ٰعِعَ اوقْ ع واعِعُ ع و
ع
ل
ع
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa…." (QS. Al-Mā’idah [5]: 2)
Imam al-Qurṭubī menafsirkan ayat ini dalam Tafsīr al-Qurṭubī bahwa
ta‘āwun dalam konteks kebaikan mencakup kerja sama dalam ilmu,
pendidikan, dan pembinaan moral. Ini menunjukkan bahwa aktivitas
supervisi di madrasah seperti pendampingan, diskusi reflektif, dan
evaluasi bersama bukan hanya tugas administratif, tetapi bentuk ibadah
sosial yang berlandaskan kebersamaan dalam menegakkan nilai-nilai
Islam
27

