Page 199 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 199
prinsip Wakaf sosial yang manfaatnya terus mengalir bagi peserta
didik dan masyarakat madrasah.
Menurut al-Zarqā (1989) dalam Sharḥ al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, kaidah
al-‘ādah muḥakkamah memberikan ruang dinamis bagi umat Islam untuk
mengembangkan praktik sosial sesuai konteks zaman, selama tidak
bertentangan dengan syariat. Hal ini sangat relevan dalam dunia
pendidikan modern, di mana pengabdian profesional guru dan kepala
madrasah menjadi bagian dari budaya kerja yang bernilai ibadah.
Dengan demikian, kebiasaan pendidik yang secara konsisten
menyalurkan ide, tenaga, dan ketulusan dalam membimbing,
mengevaluasi, serta memotivasi warga madrasah, dapat dipandang
sebagai manifestasi dari Wakaf profesional berbasis nilai-nilai syariah, di
mana ilmu dan dedikasi mereka menjadi amal berkelanjutan untuk
kemaslahatan pendidikan Islam.
ق
اعَلٍ ل َاعُعِلِ ق ّوقِ ي أعاا
(Al-umūr bi maqāṣidihā)
“Segala perbuatan tergantung pada tujuannya.”
Kaidah ini menegaskan bahwa nilai hukum dan efektivitas suatu
tindakan ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai (maqāṣid), bukan
sekadar bentuk lahir atau prosedur formal.
Menurut al-Shāṭibī dalam Al-Muwāfaqāt fī Usūl al-Sharī‘ah, maqāṣid
syariah menjadi tolok ukur untuk menilai sah atau tidaknya suatu tindakan,
dan setiap kegiatan yang sejalan dengan tujuan maslahat akan
memperoleh nilai hukum positif.
Dalam konteks pendidikan, kaidah ini menekankan bahwa supervisi
pendidikan bukan hanya rutinitas administratif, tetapi harus diarahkan
pada pencapaian tujuan utama: peningkatan kompetensi guru, kualitas
pembelajaran, dan kemajuan peserta didik.
Aplikasi dalam Supervisi Pendidikan Madrasah adalah sebagai berikut:
(1) Observasi dan evaluasi kelas
a. Tujuan: meningkatkan kualitas pengajaran.
b. Supervisi dilakukan dengan memberi masukan konstruktif dan
motivasi, bukan sekadar mencatat kesalahan guru secara formal.
(2) Mentoring guru baru
a. Tujuan: membentuk kompetensi profesional.
b. Supervisi diarahkan pada pengembangan kemampuan guru,
bukan sekadar pertemuan rutin atau laporan administratif.
(3) Pengembangan kurikulum
a. Tujuan: menyesuaikan materi pembelajaran agar lebih efektif dan
relevan.
b. Supervisi berfokus pada pencapaian kualitas hasil kurikulum,
bukan sekadar memenuhi prosedur dokumentasi.
Menurut Sergiovanni (2005) dalam Supervision: A Redefinition,
supervisi pendidikan efektif harus berorientasi pada tujuan dan hasil,
bukan hanya prosedur formal. Hal ini sejalan dengan kaidah al-umūr bi
maqāṣidihā, yang menekankan bahwa setiap tindakan memiliki nilai dan
legitimasi jika diarahkan pada tujuan yang jelas dan bermanfaat.
32

