Page 197 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 197
ta‘āwun, yaitu kerja sama ikhlas dan saling menguatkan dalam upaya
mencapai mutu pendidikan yang unggul dan berkarakter islami. Setiap
kontribusi yang diberikan oleh kepala madrasah dan guru dalam
semangat kebersamaan tersebut merupakan amal jariyah sosial yang
bernilai ibadah dan berkelanjutan.
c) Dasar Usul Fiqih
Dari perspektif usul fiqih, Wakaf dan hibah termasuk dalam wilayah
mu‘āmalah yang hukum asalnya mubah, namun dapat menjadi mandub
(dianjurkan) jika membawa kemaslahatan umum. Terdapat beberapa
kaidah penting yang relevan dengan konteks supervisi pendidikan
madrasah.
ق
ق
م
لٍلَاعخيلا لٍعحعِيَعِيلا ٰعِعَ ٍعِلٍعُقِ ٍلِاعِيلا ٍعحعِيَعِيلعا
(Al-maṣlaḥah al-‘āmmah muqaddamah ‘alā al-maṣlaḥah al-khāṣṣah)
“Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada kemaslahatan pribadi.”
Kaidah ini merupakan salah satu prinsip dasar dalam usul al-fiqh yang
digunakan para ulama untuk menetapkan hukum-hukum yang bersifat
sosial dan kemasyarakatan.
Menurut al-Ghazālī dalam al-Mustaṣfā min ‘Ilm al-Uṣūl, maslahah
adalah segala hal yang membawa manfaat atau mencegah kerusakan
bagi manusia, baik di dunia maupun akhirat.
Sementara al-Syāṭhibī dalam al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah
menegaskan bahwa maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan-tujuan syariat) selalu
diarahkan pada pemeliharaan kemaslahatan umum (maṣāliḥ al-‘āmmah),
karena agama Islam datang untuk menjaga lima hal pokok: agama (dīn),
jiwa (nafs), akal (‘aql), keturunan (nasl), dan harta (māl).
Dalam konteks sosial, kaidah ini mengandung pesan bahwa setiap
bentuk pengorbanan individu baik berupa waktu, tenaga, maupun
pengetahuan yang ditujukan untuk kebaikan masyarakat luas termasuk
dalam kategori amal yang dianjurkan (mandūb).
Dalam pelaksanaan supervisi pendidikan berbasis Wakaf dan hibah,
kepala madrasah dan guru berperan bukan hanya sebagai pengelola
administrasi, tetapi juga sebagai muḥsinīn (pemberi manfaat) bagi
masyarakat pendidikan. Tindakan mereka mencerminkan implementasi
kaidah al-maṣlaḥah al-‘āmmah muqaddamah ‘alā al-maṣlaḥah al-khāṣṣah,
karena:
(1) Supervisi bertujuan meningkatkan mutu pendidikan, yang manfaatnya
dirasakan oleh seluruh warga madrasah guru, siswa, dan masyarakat
sekitar sehingga masuk kategori maslahah ‘āmmah (kemaslahatan
umum).
(2) Pengabdian guru dan kepala madrasah dalam bentuk bimbingan,
evaluasi, serta pendampingan akademik merupakan wujud Wakaf
sosial non-material, yakni menyerahkan tenaga dan waktu demi
keberlanjutan kemaslahatan umat, bukan keuntungan pribadi.
(3) Keputusan dan kebijakan supervisi yang berorientasi pada perbaikan
sistem pembelajaran dan profesionalisme guru menggambarkan
penerapan nyata prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-‘aql
30

