Page 499 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 499
Berbagai penelitian empiris telah menemukan bahwa salat memberikan
dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan mental. Bayu Suseno (2020)
menunjukkan bahwa posisi sujud meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatik
sehingga menimbulkan relaksasi dan meningkatkan kesadaran. Renaldi Saputra &
Ayu Prihatni (2021) menemukan bahwa salat rutin mampu menurunkan tingkat
kecemasan hingga 25%. Siti Rahmah (2022) menegaskan bahwa salat Tahajud
berkontribusi pada penurunan stres dan peningkatan ketahanan emosional. Dian
Prasetya (2022) menemukan korelasi negatif antara intensitas salat Tahajud dengan
tingkat stres mahasiswa. Titik Kuntari (2023) membuktikan bahwa salat berdampak
pada ketenangan hati dan pengurangan gangguan mental ringan, sementara Ahmad
Fadli (2023) menunjukkan efektivitas salat Dhuha dalam menurunkan stres dan
meningkatkan kontrol psikologis.
Berdasarkan bukti-bukti tersebut, dapat ditarik pemahaman bahwa salat
bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga praktik yang memberikan efek
psikologis positif, seperti pengurangan stres, peningkatan ketahanan mental, dan
peningkatan kesadaran. Posisi dan gerakan dalam salat, terutama sujud dan salat
Tahajud, berperan sebagai mekanisme alami yang menenangkan pikiran dan
memperkuat stabilitas emosional. Dengan demikian, menjadikan salat sebagai
rutinitas adalah langkah strategis yang tidak hanya memenuhi kewajiban spiritual
tetapi juga berfungsi sebagai investasi kesehatan mental dan kesejahteraan
psikologis yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, berbagai penelitian terdahulu tersebut memperkuat bahwa
salat merupakan bentuk psikoterapi Islami yang efektif dan sepatutnya dijadikan
bagian integral dari strategi menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sehari-
hari.
29

