Page 42 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 42

“Kalau kita diusir, piye?” tanya Wira.                                     mengikutinya. Ngg, aku harus ngomong apa, ya? Aku takut
                                                                                            salah bicara dan membuat Gendhis bertambah murka.
                 Aku menggeleng. Andai diusir, aku tak mau pulang.
             Aku akan terus berdiri di depan rumahnya sampai dia                                Aku melirik Wira, memohon bantuan. Namun, Wira
             memaafkanku.                                                                   malah duduk santai di sofa yang kulit joknya sudah retak-
                 Sore  harinya,  Mama  mengantarku  ke  rumah  Wira.                        retak. Ada busa yang menyembul dari sofa itu.
             Rumah Wira hanya selemparan batu dari rumah Gendhis.                               “Aku minta maaf, Gendhis. Maafkan aku, ya? Aku
             Di tanganku, dua kotak kue bay tat siap untuk kuberikan                        tak mau kita bermusuhan. Aku tahu aku jahat, aku janji
             pada Gendhis.                                                                  tak akan mengulanginya lagi,” aku berkata lirih sembari
                                                                                            menyodorkan  asoy  alias tas plastik berisi kue bay tat
                 “Minta maaf yang tulus, jangan cengengesan. Kau
                                                                                            kepada Gendhis.
             yang bersalah, kau harus jantan,” pesan Mama sebelum
             meninggalkan aku di rumah Wira.                                                    “Iki apa? Sogokan? Kamu pikir aku mudah disogok?

                 Baiklah!  Dengan  mantap,  aku  dan  Wira  melangkah                       Ih, apa ini?” Gendhis mengintip isi tas plastik. “Kue bay
                                                                                            tat? Maksude, kue bantat? Kue bantat kok dijual. Anehnya
             ke rumah Gendhis. Rumahnya tampak sepi. Namun,
                                                                                            lagi, kok ada yang mau beli, hahaha …!” Gendhis tertawa.
             tiba-tiba terdengar suara Gendhis menyanyi. Gendhis                            Wajahnya nampak culas.
             menyanyi untuk siapa?

                 Aku mengetuk pintu rumah Gendhis. Kayu pintu yang
             lapuk membuat suara ketukanku tak seberapa keras.
                 Wira membantuku, dia mengetuk lebih keras. Usaha
             Wira berhasil, ada yang membuka pintu.

                 “Wira?  Heh,  KAMU?”  Gendhis  melotot  melihatku.
             “Mau apa kamu?”

                 Lututku mendadak gemetar melihat wajah Gendhis
             yang penuh amarah. Aneh, pada kuntilanak aku tak takut,
             tetapi pada manusia seperti Gendhis aku malah gemetar.

                 Gendhis membalik tubuh, masuk ke rumahnya.
             Seper  k  dicoc  hidungnya  ak    Wir







              34      Misteri Drumben Tengah Malam                                                                                          35
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47