Page 44 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 44
Darahku mendidih seketika. Mengapa dia menghina “Dik, salim dulu sama Mas Wira dan Mas eh Kak
kue khas daerah asalku? Berani sekali dia. Tanganku Faben,” pinta Gendhis. Ndaru menurut, bocah tampan
mengepal, dan meninju sandaran sofa yang diduduki itu mencium punggung tangan kami. Tanganku mengelus
Wira. kepala Ndaru pelan. Ndaru tersenyum padaku.
Wir t duduknya k tho kok “Kamu punya adik?” tanya Gendhis. Aku menggeleng.
marah-marah? Bukankah kamu juga biasa menghina “Ibuku meninggal saat Ndaru lahir. Bapakku menikah lagi,
masakan Yogya? Kamu bilang brongkos kayak ampas dan kami ditinggal bersama Simbah,” ujar Gendhis sambil
kopi, gudeg kayak kolak nangka yang gosong, soto kayak terus menyuapi Ndaru kue.
air leding dikasih daging, apa lagi? Kamu ngilo, ngaca, Mungkin ini perasaanku saja, tetapi aku merasa
Wir suk kemarahank
wajah Gendhis menjadi sendu. Seperti ada awan gelap
k Wir mer Seharusny menutupi parasnya. Astaga, tiba-tiba aku merasa menjadi
membantuku menghadapi Gendhis. Gendhis mengangkat orang paling jahat sedunia.
dagunya. Di mataku, wajahnya tampak songong.
Gendhis tidaklah seburuk yang aku kira, dia bahkan
Menyebalkan!
sama sekali tak mirip kuntilanak. Andai ada gentong besar
“Mbak Gendhis, apa itu?” tiba-tiba seorang bocah yang bisa memuat tubuhku, rasanya aku ingin masuk dan
balita keluar dari balik korden lusuh. Gendhis menyambut sembunyi saja. Aku malu sekali, malu!
anak itu dalam pelukan. Bocah itu menarik-narik kotak
“Jadi, tadi bagaimana? Kamu minta maaf?”
kue dari tangan Gendhis.
pertanyaan Gendhis membuyarkan lamunanku.
“Kue, mau?” sahut Gendhis dengan paras berubah,
Aku mengangguk cepat. Semoga dia memaafkanku,
tidak ada lagi sinar amarah dan kesombongan di matanya. permasalahan selesai, dan kami bisa mulai berteman lagi.
Wah, ini benar-benar luar biasa. Gendhis jadi terlihat
manis dan ramah. “Baik, aku maafkan. Kue bay tatmu juga enak,
buktinya Ndaru suka. Maaf kalau tadi aku mengoloknya.
Anak itu mengangguk penuh semangat. Gendhis
Namun, sekarang kamu tahu, kan? Rasanya tidak enak jika
mencuil sedikit kue bay tat dan menyuapkannya pada anak
diolok dan terus dibanding-bandingkan!” ujar Gendhis.
itu. “Ini adikku. Namanya Ndaru,” tanpa kutanya, Gendhis
mengenalkan adiknya padaku. Ndaru memandangku Aku menunduk dan kembali melirik Wira dari sudut
sekilas, lalu kembali merengek minta kue pada Gendhis. mataku. Dia malah sibuk mencabut-cabut busa yang
nongol dari sofa.
36 Misteri Drumben Tengah Malam Bab 5 Maaf 37