Page 28 - PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA DENGAN KEKUATAN SENJATA
P. 28
Nasional Indonesia. Sementara itu, para pemuda Sulawesi memperbanyak teks
proklamsi untuk disebarluaskan keseluruh pelosok penjuru. Atas inisiatif Manai Shopian
dan kawan-kawan, dibuat plakat proklamasi di rumah A. Burhanuddin dan di kantor
pewarta Celebes, yang kemudian diganti nama dengan Soeara Indonesia.
Saat itu tentara Sekutu dengan cepat dapat menguasai Indonesia bagian Timur,
termasuk Sulawesi. Upaya Sam Ratulangi untuk menyampaikan berita proklamasi ke
penjuru Sulawesi mendapat halangan dari tentara Sekutu. Para pemuda mulai
mengorganisasi diri dan merencanakan untuk merebut gedung-gedung vital. Pada
tanggal 28 Oktober 1945, kelompok pemuda yang terdiri dari bekas Kaigun, Heiho dan
pelajar SMP, bergerak menuju sasarannya dan mendudukinya. Akibat peristiwa itu
pasukan Australia yang telah ada, bergerak dan melucuti para pemuda. Sejak itu pusat
gerakan pemuda dipindahkan dari Ujungpandang ke Polombangkeng. Bahkan Sam
Ratulangikemudianditangkapoleh NICAdandiasingkan keSerui, Papua.
Berita proklamasi di Sulawesi Tenggara diterima di Kolaka, Kendari. Di Manado, berita
proklamasi pertama kali diterima di markas besar tentara Jepang yang berkedudukan di
Minahasa. Di Markas itu terdapat alat-alat sarana komunikasi yang mempekerjakan
tenaga Indonesia diantaranya adalah A.S. Rombot. Saat itu, Rombot sedang mendapat
tugas untuk menerima berita Domei dari Tokyo. Pada saat itulah berita tentang
proklamasi yang disebarkan di seluruh penjuru dunia itu diketahuinya, tepatnya pada
18 Agustus 1945.
Setelah berita proklamasi kemerdekaan tersebar keseluruh penjuru Sulawesi, sejak itu pula
bendera merah putih mulai berkibar menjadi lambang Indonesia merdeka. Cita-cita yang
sudah lama diinginkan oleh rakyat pun terwujud. Di Sulawesi Tenggara misalnya,
bendera merah putih dikibarkan pada 17 September 1945 dengan dipimpin oleh D. Andi
Kasim. Di Lasusua bendera merah putih dikibarkan pada 5 Oktober 1945 yang dihadiri oleh
kepala distrik Patampanua dan beberapa pimpinan pemuda RI dari Luwu.
Sementara itu, pada 14 Februari 1946, B.W. Lapian sebagai pemimpin sipil pada saat itu
memimpin pasukan pemuda bersama Letkol. Ch. Taulu dan Serda S.D. Wuisan
merobek bagian biru pada bendera Belanda di tangsi militer Belanda, di Teling,
27

