Page 5 - Kevin Daniel_1800451_Bahan Ajar
P. 5
Timur, pangkalan Angkatan Laut Ujung, dan markas-markas tentara Jepang serta
pabrik-pabrik yang tersebar di seluruh kota.
Berikut ini dijelaskan bentuk-bentuk perjuangan rakyat Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan.
1. Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) adalah peristiwa penting dalam sejarah
Indonesia yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946. Pasukan Inggris bagian dari
Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula
hubungan mereka dengan pemerintah RI setempat sudah tegang. Mereka menuntut
agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi
diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp-
kamp tawanan pun mulai melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan.
Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindarkan.
Malam tanggal 24 November 1945 TKR dan badan-badan perjuangan
melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara,
termasuk Hotel Homan dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga
hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat
agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan
bersenjata. Ultimatum itu harus dilaksanakan paling lambat pukul 12.00 tanggal 29
November 1945. Dengan ultimatum itu, Inggris membagi kota Bandung menjadi
bagian utara yang berada di bawah kekuasaan mereka dan bagian selatan di bawah
kekuasaan RI.
Hotel Preanger
Hotel Savoy Homann
Ultimatum itu dijawab pasukan Indonesia dengan mendirikan pos-pos gerilya
di berbagai tempat. Selama bulan Desember terjadi beberapa kali pertempuran antara
lain di Cihaurgeulis, Sukajadi, Pasir Kaliki, dan Viaduct. Inggris berusaha merebut
Balai Besar Kereta Api, tetapi gagal. Ketika berusaha membebaskan interniran Belanda
di Ciater, mereka terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Indonesia di Lengkong
Besar. Dalam bulan-bulan pertama tahun 1946 pertempuran berkobar secara sporadis.
Serangan-serangan sporadis yang dilancarkan pasukan Indonesia dan
kegagalan mencari penyelesaian di tingkat daerah menyebabkan Inggris bermain di
3

