Page 4 - Sinar Tani Edisi 4050
P. 4
4 Edisi 14 - 20 Agustus 2024 | No. 4050 Tahun LIV
Bioteknologi tidak akan menghadapi masalah
serius,” tegasnya.
Dengan penerapan bioteknologi,
Yusra berharap dapat mengurangi
dalam
dan
kendala
produksi
Minim Sosialisasi mengurangi ketergantungan pada
impor. Adopsi bioteknologi dalam
pertanian bisa memberikan banyak
manfaat. Diantaranya, meningkatkan
hasil panen, mengurangi kebutuhan
akan pestisida dan herbisida, serta
meningkatkan ketahanan tanaman
terhadap penyakit dan hama.
Polemik terhadap produk bioteknologi di Indonesia tidak lepas karena Sementera itu Asisten Deputi
minimnya sosialisasi. Padahal di beberapa negara dunia, petani sudah Prasarana dan Sarana Pangan dan
Agribisnis Kemenko Perekonomian
banyak menerapkan varietas hasil rekayasa genetik tersebut. Bahkan Dr. Ismariny mengatakan, pentingnya
mengenai
salah satu produknya yakni kedelai GMO justru menjadi bahan baku sosialisasi genetik ini, teknologi
rekayasa
sehingga
tempe dan tahu yang menjadi makanan rakyat Indonesia. tidak menimbulkan polemik yang
berkepanjangan. Kementerian
Koordinator bidang Perekonomian
enengok sejarah Pembentukan Komisi Keamanan parlemen untuk memberikan mendukung adanya adopsi teknologi
perjalanan Hayati Produk Rekaysa Genetik pemahaman pentingnya pertanian yang salah satunya adalah
biot ek n ologi dan keluarnya Peraturan Menteri bioteknologi dalam peningkatan produk rekayasa genetika.
di Indonesia Lingkungan Hidup No. 25 Tahun 2012 produksi pangan. Karena itu, ia Saat ini menurutnya, banyak
yang dimulai tentang Keamanan Lingkungan. menganggap pentingnya sosialisasi, tantangan yang harus dihadapi untuk
Mtahun 1985 dan Di Kementerian Pertanian terbit, edukasi, dan advokasi yang terus- mencapai sasaran produksi. Misalnya,
kemudian berdiri KBI (Konsorsium Permentan No 36 Tahun 2016 tentang menerus kepada semua stakeholder dampak pemanasan global yang
Bioteknologi Indonesia) tahun Keamanan Pakan, Perka BPOM No yang terlibat dalam setiap rantai mengakibatkan fenomena iklim dan
1992 yang dilanjutkan dengan 6 Tahun 2018 mengenai Inspeksi pangan, tidak hanya kepada gangguan organisme pengganggu
ratifikasi Konvensi PBB mengenai Pangan GMO, Permentan No 38 masyarakat umum. tanaman sulit diprediksi, adanya
Keanekaragaman Hayati (UN CBD) Tahun 2019 mengenai Pelepasan ”Proses ini melibatkan banyak kerusakan infrastruktur pertanian,
pada tahun 1994. Lalu, pelepasan Varietas dan Permentan No 50 Tahun pihak dari hulu ke hilir. Tidak hanya kemudian sarana produksi yang
kapas transgenik tahun 2001. 2020 mengenai Pengawasan Varietas petani, kementerian, dan lembaga belum terpenuhi secara tepat.
Namun hingar bingar pro kontra GMO. terkait, tetapi juga mencakup “Kendala-kendala tersebut harus kita
terhadap kapas bt milik salah satu Ketatnya peraturan terhadap semua pihak yang terlibat setelah atasi bersama-sama. Berbagai upaya
perusahaan multinasional tersebut PRG tersebut karena pemerintah pascapanen, penanganan, distribusi, harus kita lakukan untuk memenuhi
membuat pelaku usaha ‘mengerem’ yang mengambil sikap kehati-hatian retail, dan konsumen,” kata Yusra. kebutuhan pangan. Bioteknologi
untuk melanjutkan kajian terhadap dalam produk tersebut. Pendekatan Menurutnya, pentingnya modern merupakan salah satu
produk bioteknologi, khususnya PRG kehati-hatian ini menurut Direktur sosialisasi dan edukasi kepada caranya,” tegasnya.
di Indonesia. Di sisi lain, pemerintah Perumusan Standar Keamanan dan masyarakat tentang manfaat dan Biotechnology and Seed Lead
juga terus membuat peraturan Mutu Pangan dari Badan Pangan risiko PRG adalah untuk memastikan Croplife Indonesia, Agustine
terkait dengan bioteknologi tersebut. Nasional (Bapanas), Yusra Egayanti bahwa masyarakat memahami Christela Melviana mengakui,
Hingga kini tercatat cukup banyak bertujuan meminimalisir risiko yang bagaimana memproduksi dan tantangan produk bioteknologi ini
kebijakan yang mengatur produk mungkin timbul dari penggunaan mengolah PRG, serta bagaimana adalah adanya persepsi publik yang
bioteknologi, khususnya rekayasa PRG. regulasi dan standar keamanan keliru dan lamanya proses akses
genetika di Indonesia yakni UU No. 6 Selain itu memastikan diterapkan untuk melindungi pasar. Ke depan harap Stela, perlu
tahun 1994 Ratifikasi Konvensi PBB bahwa produk tersebut tidak kesehatan masyarakat. ”Dengan adanya kolaborasi dan elaborasi
mengenai Keanekaragaman Hayati, membahayakan kesehatan manusia sosialisasi, kita dapat mengurangi semua stakeholder terkait benih
Keputusan Bersama 4 Menteri Tahun dan lingkungan. “Undang-undang ketidakpastian dan kekhawatiran bioteknologi khususnya, komunikasi
1999 tentang Keamanan Hayati dan kita menyebutkan bahwa hanya yang mungkin timbul terkait dengan yang sistematis dan mudah
Keamanan Pangan Produk Hasil produk yang telah dinyatakan penggunaan PRG,” ujarnya. dimengerti khalayak umum agar
Rekayasa Genetika, UU No. 29 Tahun aman untuk pangan, pakan, dan Yusra melihat potensi besar dalam persepsi publik tidak salah terhadap
2000 tentang Perlindungan Varietas lingkungan yang dapat dikonsumsi bioteknologi untuk mendukung produk bioteknologi.
Tanaman. manusia, dibudidayakan, atau pembangunan pertanian dan ”Selama ini tidak ada bukti
Kemudian UU No. 21 Tahun diberikan kepada ternak,” katanya. pangan di Indonesia, terutama di kuat mengenai perbedaan risiko
2004 tentang Ratifikasi Protokol tengah tantangan perubahan iklim. terhadap kesehatan manusia antara
Cartagena, PP No. 21 Tahun 2005 Pentingnya Komunikasi Bahkan, bioteknologi bisa menjadi benih bioteknologi yang tersedia
tentang Keamanan Hayati Produk Yusra menyoroti pentingnya solusi yang signifikan. ”Jika tingkat secara komersial dan tanaman yang
Rekayasa Genetik, selanjutnya komunikasi berbasis ilmiah dengan adopsi bioteknologi oleh petani dibudidayakan secara konvensional,”
terbit PP No. 39 Tahun 2010 tentang berbagai stakeholder, termasuk tinggi, maka produksi pangan di hilir tuturnya. Tim Sinta