Page 118 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 118

Title          INI 9 ALASAN KSPI MENOLAK OMNIBUS LAW CIPTA KERJA
               Media Name     kompas.com
               Pub. Date      16 Februari 2020
                              https://nasional.kompas.com/read/2020/02/16/15353591/ini-9-alasan-kspi -menolak-
               Page/URL
                              omnibus-law-cipta-kerja
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative










               JAKARTA, - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI ) mengungkapkan
               sembilan alasan menolak Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta
               Kerja.

               Kesembilan alasan itu berangkat dari tiga prinsip buruh yang dianggap KSPI tidak
               terdapat dalam Omnibus Law RUU tersebut.

               Ketiga hal itu adalah job security atau perlindungan kerja, income security atau
               perlindungan terhadap pendapatan serta social security atau jaminan sosial
               terhadap pekerjaan.

               Presiden KSPI Said Iqbal menyampaikan alasan-alasan tersebut, saat konferensi
               pers terkait RUU Cipta Kerja di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu
               (16/2/2020).

               Kesembilan alasan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Hilangnya Upah Minimum
               "Dalam RUU Cipta Kerja, ada istilah yang disebut upah per satuan waktu dan per
               satuan hasil. Upah per satuan waktu adalah per jam, otomatis menghilangkan upah
               minimum," kata dia.

               Tidak hanya itu, dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, upah
               minimum provinsi (UMP) hanya berlaku di wilayah DKI Jakarta dan D.I Yogyakarta.

               Para buruh, kata dia, menggunakan upah dari upah minimum kabupaten (UMK) dan
               upah minimum sektoral kerja (UMSK).

               Namun dalam RUU Cipta Kerja, UMK dan UMSK dihapus dan digantikan UMP.

               "Berarti hilang. Kalau tetap dipaksakan UMP, upah yang UMK/UMSK-nya lebih besar
               dari UMP masa diturunkan (kalau berpatokan hanya pada UMP)," kata dia.

               Selain itu, perumusan kenaikan upah minimum juga hanya berdasarkan
               pertumbuhan ekonomi, tidak ditambahkan inflasi seperti halnya dalam PP 78 Tahun
               2015 tentang Pengupahan.






                                                      Page 117 of 336.
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123