Page 122 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 122

Title          SERIKAT BURUH TOLAK DRAF OMNIBUS LAW CIPTA KERJA
               Media Name     cnnindonesia.com
               Pub. Date      16 Februari 2020
                              https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200216155939-92-475110/serikat- buruh-
               Page/URL
                              tolak-draf-omnibus-law-cipta-kerja
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative





               Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI ) menolak draf Omnibus Law
               Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja yang telah beredar di publik.
               Alasannya, karena perubahan aturan terkait upah minimum.

               Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan dalam draf Omnibus Law Cipta Kerja tak lagi
               diatur soal upah minimum kabupaten (UMK) dan upah minimum sektoral
               kabupaten/kota (UMSK). Dengan demikian, penentuan upah minimum hanya
               berdasarkan upah minimum provinsi (UMP).

               "Ada yang bilang UMP, ada tapi sebenarnya tidak dibutuhkan oleh buruh, kecuali
               untuk DKI Jakarta dan Yogayakarta. Di luar itu, UMP biasanya tidak digunakan.
               Kalau dipaksakan jadi turun," ungkap Said, Minggu (16/2).

               Ia mencontohkan saat ini upah minimum di Kabupaten Bekasi sebesar Rp4,4 juta
               dan Karawang Rp4,5 juta. Namun, jika mengacu pada UMP Jawa Barat yang hanya
               Rp1,8 juta, artinya akan ada potensi pengurangan penghasilan bagi buruh usai
               Omnibus Law Cipta Kerja disahkan.

               "Itu namanya tidak punya otak," tegas Said.

               Selain itu, pemerintah juga mengubah formula perhitungan upah minimum dengan
               menghapus indikator inflasi. Penentuan upah minimum selanjutnya hanya
               berdasarkan pertumbuhan ekonomi daerah setempat.

               "Jadi, kalau ada kenaikan barang itu tidak dihitung lagi. Hanya melihat pertumbuhan
               ekonomi daerah, ini kan ada yang pertumbuhannya kecil atau bahkan minus,"
               katanya.

               Kemudian, perubahan perhitungan formula pesangon juga menjadi sorotan KSPI.
               Said menyatakan jumlah pesangon yang diterima buruh jika terjadi Pemutusan
               Hubungan Kerja (PHK) berpotensi semakin kecil.

               "Kalau dalam aturan sekarang ditotal bisa 32 kali upah, kalau sekarang total
               mungkin hanya 18 kali," terang dia.

               Selanjutnya, Said mengklaim pemerintah memberikan kebebasan kepada pengusaha
               untuk menggunakan pekerja outsourcing di berbagai jabatan. Berbeda dengan
               aturan yang berlaku saat ini, di mana hanya ada lima pekerjaan yang boleh diisi




                                                      Page 121 of 336.
   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127