Page 305 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 305

Title          OMNIBUS LAW, INI RUMUS PESANGON BURUH
               Media Name     fajar.co.id
               Pub. Date      14 Februari 2020
               Page/URL       https://fajar.co.id/2020/02/14/omnibus-law-ini-rumus-pesangon-buruh/
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive

                                OMNIBUS LAW, INI RUMUS PESANGON BURUH
               Penolakan kelompok buruh terhadap draf Rancangan Undang-Undang (RUU)
               Omnibus Law Cipta Kerja, khususnya klaster ketenagakerjaan, cukup beralasan.
               Sebab, banyak pasal yang dinilai memberatkan pekerja. Mulai urusan upah
               minimum (UM) hingga soal pemutusan hubungan kerja (PHK).

               Merujuk pada draf yang diterima Jawa Pos (grup fajar.co.id), banyak pasal
               ngambang. Ketentuannya akan diatur lebih detail dalam peraturan pemerintah.
               Padahal, poin tersebut krusial dan butuh transparansi.

               Berbeda dengan UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang lebih gamblang.

               Sebagai contoh, urusan UM. Omnibus law memang tidak menghapus UM. Namun,
               melalui beleid tersebut, pemerintah ternyata menghilangkan peran dewan
               pengupahan dalam penentuan UM. Kewenangannya dilimpahkan sepenuhnya ke
               gubernur. Aturan itu tertuang dalam pasal 88C Bab IV tentang Ketenagakerjaan.

               Dalam pasal tersebut, gubernur sudah diberi formula untuk menentukan UM.
               Rumusnya, UM provinsi dihitung dari penjumlahan UM tahun berjalan dan hasil kali
               UM tahun berjalan dengan persentase pertumbuhan ekonomi tahun berjalan.

               Rumus tersebut, menurut Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI)
               Timboel Siregar, sangat mungkin bakal membuat perhitungan UM lebih rendah
               daripada skema saat ini. Sebab, kenaikannya hanya didasarkan pada pertumbuhan
               ekonomi. Tidak lagi menghitung inflasi. "Padahal, kalau di PP 78/2015 tentang
               Pengupahan, kenaikan UM berdasarkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi," tutur dia
               kepada koran ini kemarin (13/2).

               Begitu pula mengenai PHK. Ada ruang yang mempermudah diakhirinya hubungan
               kerja. Dalam pasal 151 draf RUU itu disebutkan bahwa PHK dilaksanakan berdasar
               kesepakatan antara pengusaha dan pekerja atau buruh. Bila kesepakatan tidak
               tercapai, penyelesaian PHK dilakukan melalui prosedur penyelesaian perselisihan
               hubungan industrial.

               Alasan PHK tersebut kemudian diperjelas lagi di pasal 154 A ayat 1. Salah satunya
               pada poin J. Tertulis bahwa PHK dapat dilakukan jika pekerja atau buruh melakukan
               pelanggaran ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan
               (PP), atau perjanjian kerja bersama (PKB).

               Poin tersebut jauh berbeda dengan UU Ketenagakerjaan yang berlaku saat ini.
               Yakni, sebelum PHK dilakukan, pengusaha, pekerja, serikat pekerja, dan pemerintah
               harus mengusahakan agar pemutusan tersebut tidak terjadi. Caranya, antara lain,



                                                      Page 304 of 336.
   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310