Page 73 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 73

Title          DALAM RUU OMNIBUS LAW, PEKERJA CUMA LIBUR SEHARI SETIAP MINGGU?
               Media Name     liputan6.com
               Pub. Date      16 Februari 2020
                              https://www.liputan6.com/bisnis/read/4180072/dalam-ruu-omnibus-law-pek erja-cuma-
               Page/URL
                              libur-sehari-setiap-minggu
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative









               Jakarta - Pemerintah telah menyerahkan draf Rancangan Undang-Undang (RUU)
               Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja ke DPR untuk segera disahkan jadi Undang-
               Undang. Dalam RUU ini, pemerintah hanya memberi waktu istirahat atau waktu libur
               minimal satu hari dalam satu minggu atau sepekan.

               Dikutip dari draf RUU Omnibus Law Cipta Kerja pasal 79 ayat 2 (b), Minggu
               (16/2/2020), disebutkan bahwa: Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam)
               hari kerja dalam 1 (satu) minggu. Sedangkan dalam Undang-Undang No 13 Tahun
               2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 79 ayat 2 (b) dituliskan: Istirahat mingguan 1
               (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk
               5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

               Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja diklaim pemerintah dapat mendorong
               sektor ekonomi dan investasi di Indonesia yang kini lesu. Pemerintah berencana
               melarang tenaga kerja konstruksi tak bersertifikat bekerja. Hal ini tertuang dalam
               draf rancangan undang-undang (RUU) omnibus law cipta kerja.

               Seperti tertuang dalam pasal 99 dalam UU No 2 Tahun 2017 tentang Jasa
               Konstruksi mengatur bahwa pekerja tak bersertifikat kompetensi yang kedapatan
               bekerja akan diberhentikan.

               "Setiap tenaga kerja konstruksi yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi tidak
               memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja dikenai sanksi administratif berupa
               pemberhentian dari tempat kerja," tulis pasal 99 ayat 1 tersebut.

               Sementara, kepada pemberi kerja pekerja tak bersertifikat kompetensi juga akan
               dikenakan sanksi. Mulai dari denda administratif sampai penghentian sementara
               kegiatan layanan jasa konstruksi.

               Di ayat 3 bagian dari omnibus law ini menyebutkan setiap tenaga kerja konstruksi
               bersertifikat yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi dan tidak berpraktik sesuai
               dengan standar kompetensi kerja nasional Indonesia, standar internasional, dan
               atau standar khusus dikenakan sanksi berupa peringatan tertulis, denda
               administratif, pembekuan sertifikat kompetensi kerja, dan/atau pencabutan sertifikat
               kompetensi kerja.
               Reporter: Sulaeman Sumber: Merdeka.com.




                                                       Page 72 of 336.
   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78