Page 846 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 846

Ringkasan

              Buntut pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja pada sidang paripurna, Senin
              (5/10), buruh mengancam akan melakukan aksi mogok nasional dan demo massal pada 6-8
              Oktober.  Terkait itu, tujuh tuntutan dari aliansi buruh, mulai dari perjanjian kerja waktu tertentu
              (PKWT) seumur hidup,  outsourcing  , penolakan jam kerja yang eksploitatif, hingga hak cuti,
              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)    Ida  Fauziyah    membeberkan  poin-poin  positif  yang
              terangkum dalam Klaster Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja.



              BURUH PROTES HAK CUTI HINGGA JAM KERJA, AKHIRNYA BU MENAKER
              BERSUARA LAGI

              Buntut pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja pada sidang paripurna, Senin
              (5/10), buruh mengancam akan melakukan aksi mogok nasional dan demo massal pada 6-8
              Oktober.

              Terkait itu, tujuh tuntutan dari aliansi buruh, mulai dari perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT)
              seumur hidup,  outsourcing  , penolakan jam kerja yang eksploitatif, hingga hak cuti, Menteri
              Ketenagakerjaan  (Menaker)    Ida  Fauziyah    membeberkan  poin-poin  positif  yang  terangkum
              dalam Klaster Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja.

              "Terdapat prinsip-prinsip umum yang dipatuhi dalam penyusunan Klaster Ketenagakerjaan RUU
              Cipta Kerja, yang pertama, penyusunan ketentuan klaster ketenagakerjaan memperhatikan hasil
              putusan  Mahkamah  Konstitusi  atas  uji  materi  UU  13/2003,"  ujar  Ida  di  Jakarta,  Selasa
              (6/10/2020).

              Kemudian,  jelas  dia,  ketentuan  mengenai  sanksi  ketenagakerjaan  dikembalikan  kepada  UU
              13/2003. Ida mengatakan, RUU Cipta Kerja tetap mengatur syarat-syarat dan perlindungan hak
              bagi pekerja/buruh PKWT yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja. Disamping
              itu,  RUU  Cipta  Kerja  mengatur  perlindungan  tambahan  berupa  kompensasi  kepada
              pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWT.

              "Syarat-syarat dan perlindungan hak bagi pekerja/buruh dalam kegiatan Alih Daya (outsourcing)
              masih tetap dipertahankan. Bahkan RUU Cipta memasukkan prinsip pengalihan perlindungan
              hak-hak  bagi  pekerja/buruh  apabila  terjadi  pergantian  Perusahaan  Alih  Daya.  Hal  ini  sesuai
              dengan amanat putusan Mahkamah Konstitusi No. 27/PUU-IX/2011," jelas Ida.

              Di samping itu, dalam rangka pengawasan terhadap Perusahaan Alih Daya, RUU Cipta Kerja juga
              mengatur syarat-syarat perizinan terhadap Perusahaan Alih Daya yang terintegrasi dalam sistem
              Online Single Submission (OSS).

              "Ketentuan  mengenai  waktu  kerja  dan  waktu  istirahat  tetap  diatur  seperti  UU  eksisting  (UU
              13/2003) dan menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat
              pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu. Hal ini untuk mengakomodir tuntutan perlindungan
              pekerja/buruh pada bentuk-bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi
              digital saat ini berkembang secara dinamis," paparnya.

              Dia  menyampaikan,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  hak-hak  dan  perlindungan  upah  bagi
              pekerja/buruh  sebagaimana  peraturan  perundang-undangan  eksisting  (UU  13/2003  dan  PP
              78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              "Terdapat  penegasan  variabel  dan  formula  dalam  penetapan  Upah  Minimum  berdasarkan
              pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi.  Selain  itu,  ketentuan  mengenai  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota tetap dipertahankan. Dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan Upah

                                                           845
   841   842   843   844   845   846   847   848   849   850   851