Page 851 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 851

Ketua Umum KSP BUMN Ahmad Irfan Nasution mengatakan, pihaknya akan bantu memproses
              gugatan  terhadap  RUU  Cipta  Kerja  yang  telah  disahkan  tersebut  secara  jalur  hukum  via
              Mahkamah Konstitusi  (MK).

              "Terhadap  pasal yang merugikan  pekerja,  KSP  BUMN  akan  segera  membentuk  tim  advokasi
              untuk mengajukan gugatan Judicial Review melalui Mahkamah Konstitusi," kata Irfan, Selasa
              (6/10/2020).

              Irfan menyatakan, KSP BUMN juga telah memberikan masukan kepada pemerintah dan DPR
              terkait perumusan draf RUU Cipta Kerja sebelum disahkan.

              "KSP BUMN akan mempelajari UU tersebut dengan seksama, terutama terkait pasal usulan KSP
              BUMN dan pasal yang merugikan pekerja," ujar Irfan.

              Kendati  demikian,  pihaknya  mengambil  pernyataan  sikap  yang  sedikit  berbeda  dari  serikat
              pekerja lainnya terkait aksi bentuk penolakan. Irfan menyampaikan, ia mengajak seluruh pekerja
              yang tergabung dalam KSP BUMN untuk tidak ikut dalam aksi mogok kerja nasional seperti yang
              dilakukan kelompok pekerja lain.

              "Kita tetap harus berikan kinerja terbaik di tengah ancaman resesi ekonomi sebagai dampak
              pandemi, dan tantangan BUMN sebagai  buffer  perekonomian nasional untuk menghadirkan
              kesejahteraan rakyat Indonesia secara kolektif," kata dia.

              Pernyataan sikap yang dikeluarkan KSP BUMN ini memang sedikit berbeda dengan kelompok
              buruh lainnya. Seperti yang diutarakan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI),
              yang memastikan bakal tetap menyelenggarakan aksi mogok kerja nasional selama 3 hari, yakni
              pada 6-8 Oktober 2020.

              Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, aksi itu digelar sebagai bentuk penolakan terhadap RUU
              Cipta Kerja yang telah menjadi UU. Ada tujuh poin alasan mengapa KSPI tidak setuju dengan
              Omnibus Law.

              Pertama  , buruh menolak Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) bersyarat dan Upah Minimum
              Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) dihapus.

              Kedua,  buruh menolak pengurangan nilai pesangon dari 32 bulan upah menjadi 25 bulan. Lalu,
              penolakan seputar Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau kontrak kerja seumur hidup
              tanpa batas waktu.
              Selanjutnya, buruh juga menolak UU Cipta Kerja terkait  outsourcing  seumur hidup, tidak mau
              mendapatkan jam kerja eksploitatif, mempermasalahkan hak upah atas cuti yang hilang, hingga
              menyoroti  potensi  hilangnya  jaminan  pensiun  dan  kesehatan  akibat  terus  menggunakan
              karyawan  outsourcing.



















                                                           850
   846   847   848   849   850   851   852   853   854   855   856