Page 955 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 955

SERIKAT BURUH DI JABAR DISARANKAN AJUKAN JUDICIAL REVIEW UU CIPTA
              KERJA
              Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat menyarankan serikat buruh untuk melakukan
              judicial review jika keberatan atas poin-poin dalam UU Cipta Kerja. Kepala Dinas Tenaga Kerja
              dan  Transmigrasi  Jawa  Barat  Taufik  Garsadi  mengatakan  pihaknya  meminta  buruh  untuk
              melakukan konsolidasi internal dan tidak menggelar aksi mogok kerja.

              "Konsolidasi saja, ajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi, sekarang kalau unjuk rasa
              izinnya tidak dikeluarkan oleh polisi, dan Undang-Undang sudah ditetapkan oleh DPR," katanya
              saat dihubungi, Selasa (6/10/2020).

              Menurutnya langkah judicial review lebih elok dibanding melakukan mogok kerja dan unjuk rasa
              yang memiliki resiko lebih besar. "Di Jabar ada serikat buruh yang mengajak mogok kerja dan
              unjuk rasa, ada yang menolak tidak ikut. Kami bersama Disnaker di daerah menghimbau jangan
              mogok dan unjuk rasa karena resikonya besar," katanya.
              Taufik memaparkan alasan pihaknya menghimbau buruh untuk menolak unjuk rasa dan mogok.
              Pertama,  menurutnya  apakah  para  buruh  sudah  mengetahui  secara  detil  isi  UU  Cipta  Kerja.
              "Buruh-buruh ini apakah sudah tahu poin-poin yang beredar viral masuk dalam UU?" Katanya.

              Dia menilai ada narasi yang hadir di kalangan awam bahwa UU Cipta Kerja merugikan para
              pekerja patut tidak boleh ditelan bulat-bulat.

              "Kata Ibu Menaker, sebetulnya tuntuntan buruh sudah masuk diakomodir ke UU, walaupun kita
              belum menerima secara resmi. Poin seperti misalnya outsourcing dihilangkan itu kan tidak ada,"
              ujarnya.

              Kedua, aksi unjuk rasa menurutnya dikhawatirkan rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19.
              Taufik menilai resiko ini berbahaya karena jika terjadi siapa pihak yang akan bertanggung jawab.
              "Ketiga resiko pemecatan dari perusahaan, itu bisa jadi masalah. Kasihan masyarakat, mereka
              yang bukan pekerja bakal terkena dampak," katanya.

              Taufik sendiri memastikan pemerintah provinsi tidak bisa berbuat banyak menerima keluhan dan
              tuntutan dari buruh mengingat UU sudah disahkan oleh DPR bersama pemerintah. "Kita tidak
              punya kewenangan, gubernur saja tidak mungkin menolak Undang-Undang, jadi saran judicial
              review menurut kami bentuk win-win solution," paparnya.






























                                                           954
   950   951   952   953   954   955   956   957   958   959   960