Page 982 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 982

KLAIM ASPIRASI BURUH DIAKOMODIR DI UU CIPTA KERJA, MENAKER: MOGOK
              TAK RELEVAN
              TEMPO.CO, Jakarta -   Menteri Ketenagakerjaan  Ida Fauziyah  menulis surat terbuka kepada
              serikat pekerja dan  buruh  . Surat itu menyinggung rencana  mogok  nasional 6-8 Oktober 2020
              sebagai protes atas pengesahan Undang-Undang atau  UU Cipta Kerja  .

              Menurut Ida, sebagian aspirasi buruh sudah diakomodir dalam UU Cipta Kerja. "Karena sudah
              banyak  yang  diakomodir,  maka  mogok  menjadi  tidak  relevan,"  kata  dia  melalui  surat  yang
              diterbitkan di akun Instagram Kemnaker, Senin malam, 5 Oktober 2020.

              Dia mengklaim beberapa aspirasi buruh yang diakomodir dalam UU Cipta Kerja di antaranya soal
              perjanjian kerja waktu tertentu, outsourcing, syarat PHK. Menurut Ida, poin-poin tersebut masih
              mengacu pada undang-undang lama.

              Menurut dia, sejak 2020 pihaknya sudah berdialog tentang RUU Cipta Kerja, baik secara formal
              melalui  lembaga  Tripartit,  maupun  secara  informal.  Ia  mengatakan  sudah  mendengar  dan
              memahami aspirasi para buruh. "Sedapat mungkin aspirasi ini kami sertakan menjadi bagian dari
              RUU ini," ucap dia. "Pada saat yang sama kami juga menerima aspirasi dari berbagai kalangan."
              Ida  mengatakan  rencana  aksi  harus  dipikirkan  karena  pandemi  Covid-19.  "Terkait  rencana
              mogok  nasional  ,  saya  meminta  agar  berpikir  lagi  dengan  tenang  karena  situasi  jelas  tidak
              memungkinkan untuk turun ke jalan, untuk berkumpul. Pandemi Covid-19 masih tinggi, masih
              belum ada vaksinnya," kata Ida, melalui surat yang diterbitkan di akun Instagram Kemnaker,
              Senin malam, 5 Oktober 2020.

              Menurut dia, sejak 2020 sudah berdialog tentang RUU Cipta Kerja, baik secara formal melalui
              lembaga  Tripartit,  maupun  secara  informal.  Ia  mengaku  sudah  mendengar  dan  memahami
              aspirasi para buruh. "Sedapat mungkin aspirasi ini kami sertakan menjadi bagian dari RUU ini,"
              ucap dia. "Pada saat yang sama kami juga menerima aspirasi dari berbagai kalangan."  Karena
              itu, dia meminta buruh pertimbangkan rencana mogok dan membaca secara utuh UU Cipta Kerja.
              Ida menjelaskan bahwa tidak mungkin bisa menampung seratus persen aspirasi kaum buruh.
              Bagi  dia,  keberpihakan  terhadap  para  kaum  pekerja  sangat  terang  dalam  undang-undang
              tersebut.

              Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (  KSPI  ) Said Iqbal menyatakan
              berbagai serikat buruh akan tetap menggelar aksi mogok nasional sepanjang tanggal 6 hingga
              8 Oktober 2020. Hal ini menanggapi disahkannya  Omnibus  Law  RUU Cipta Kerja  oleh DPR RI
              pada Senin, 5 Oktober 2020.

              "Buruh akan menyuarakan tolak omnibus law RUU Cipta Kerja, antara lain tetap ada UMK tanpa
              syarat dan UMSK jangan hilang, nilai pesangon tidak berkurang, tidak boleh ada PKWT atau
              karyawan kontrak seumur hidup, tidak boleh ada outsourcing seumur hidup," kata Said dalam
              keterangan tertulis, Senin, 5 Oktober 2020.

              Said sebelumnya menyebut tujuh alasan menolak RUU Cipta Kerja. Di antaranya soal pesangon
              yang berubah dari 32 bulan upah menjadi 25 bulan, 19 bulan dibayar pengusaha dan 6 bulan
              dibayar pemerintah lewat BP Jamsostek. Said Iqbal mempertanyakan sumber dana BP Jamsostek
              untuk membayar pesangon. Ia menyebut BP Jamsostek justru bisa bangkrut dengan skema ini.

              IHSAN RELIUBUN I WINTANG WARASTRI I KODRAT   .







                                                           981
   977   978   979   980   981   982   983   984   985   986   987