Page 980 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 980

"Dari 10 isu yang disepakati oleh pemerintah dan DPR, KSPI mencermati, katanya tiga isu yaitu
              PHK, sanksi pidana bagi pengusaha dan TKA dikembalikan sesuai dengan isi UU 13/2003," kata
              Said Iqbal  .

              Tanggapan Pengamat  Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
              Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, Badan Legislasi (Baleg) DPR terlalu terburu-buru dalam
              membahas dan menggesa pengesahan RUU Cipta Kerja.

              Pada Sabtu (3/10/2020) malam, dalam pembicaraan Tingkat I, DPR dan pemerintah sepakat
              RUU Cipta Kerja akan dibawa ke Rapat Paripurna.

              Menurut Bhima, banyak pasal-pasal substantif yang harus dikaji secara mendalam.

              "Pembahasan  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja  terlalu  terburu-buru  padahal  banyak  pasal
              substantif yang harus dikaji secara lebih mendalam," kata Bhima saat dihubungi Tribunnews,
              Minggu (4/10/2020).

              Bhima  mencontohkan  beberapa  pasal  yang  dianggapnya  bermasalah,  yaitu  terkait  dengan
              keterbukaan impor pangan.

              Hal  itu  akan  merugikan  petani,  hanya  karena  ditekan  pihak  asing  lalu  regulasi  perlindungan
              petani dirubah secepat kilat.

              "Ini  kontradiktif  terhadap  upaya  meningkatkan  kemandirian  pangan.  pemerintah  buat  food
              estate, cetak sawah tapi pintu impor dibuka sebebas-bebasnya melalui omnibus law cipta kerja.
              Ketika ditanya mana kajiannya, mereka tidak bisa jawab. kan ini lucu ya," ucapnya.

              Kemudian,  terkait  pasal  di  klaster  ketenagakerjaan  juga  dibahas  tanpa  memperhitungkan
              dampak pada nasib pekerja yang rentan kena PHK.

              Pesangon dikurangi padahal, semua tahu dalam kondisi resesi, pekerja butuh perlindungan.

              Menurutnya, jika model regulasi yang mengatur banyak hal dibahas secepat ini, dia khawatir
              investasi justru tidak naik pasca-omnibus law diserahkan.


              "Hal ini karena Investor dari negara maju sangat memandang serius hak-hak pekerja. Decent
              labor dan fair labor itu menjadi standar investasi internasional. Msalnya ada pabrik tekstil mau
              relokasi ke Indonesia, kemudian dilihat ternyata hak-hak pekerja dengan disahkannya omnibus
              law berkurang signifikan," ujarnya.

              "Ini  kemudian  membuat  brand  internasional  urung  berinvestasi  dan  mencari  negara  lain.
              sayangnya yang membuat omnibus law cipta kerja ini tidak menyadari kesalahan fatal tersebut,"
              tegas Bhima Yudhistira.




















                                                           979
   975   976   977   978   979   980   981   982   983   984   985