Page 978 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 978

"Setuju,"  ungkap  mayoritas  anggota  yang  hadir.  Azis  kemudian  mengetok  palu  tanda
              persetujuan pengesahan.
              Dengan demikian, pembahasan omnibus law RUU Cipta Kerja telah tuntas diselesaikan DPR dan
              pemerintah setelah melalui bahasan maraton pada Sabtu (3/10/2020) malam.

              Dalam rapat kerja pengambilan keputusan Sabtu malam lalu, hanya dua dari sembilan fraksi
              yang menolak hasil pembahasan RUU Cipta Kerja.

              Dua fraksi tersebut adalah PKS dan Partai Demokrat.
              Kedua Fraksi menyatakan menolak RUU Cipta Kerja disahkan menjadi undang-undang.

              Namun, sejak awal isi Omnibus Law  UU Cipta Kerja  ini diprotes buruh dari berbagai elemen.
              Lalu  apa  saja  sebenarnya  hal-hal  dalam  RUU  ini  yang  membuat  buruh  sangat  keberatan?
              Berdasar catatan Tribunnews, setidaknya ada tujuh item krusial dalam  UU Cipta Kerja  yang
              amat merugikan buruh seperti dinyatakan Presiden KSPI  Said Iqbal  .

              Berikut rinciannya:

              1.  UMK  bersyarat  dan  Upah  Minimum  Sektoral  Kabupaten/Kota  (UMSK)  dihapus    Said  Iqbal
              menyatakan buruh menolak keras kesepakatan ini, lantaran UMK tidak perlu bersyarat dan UMSK
              harus tetap ada. Dimana UMK tiap kabupaten/kota berbeda nilainya.
              Said Iqbal juga menjelaskan bahwa tidak benar jika UMK di Indonesia lebih mahal dari negara
              ASEAN lainnya.

              Hal  itu  lantaran  jika  diambil  rata-rata  nilai  UMK  secara  nasional,  justru  UMK  di  Indonesia
              disebutnya jauh lebih kecil dari upah minimum di Vietnam.

              UMSK ditegaskan harus tetap ada, dimana jalan tengahnya ialah penetapan nilai kenaikan dan
              jenis industri yang mendapatkan UMSK dilakukan di tingkat nasional untuk beberapa daerah dan
              jenis industri tertentu saja.

              Jadi UMSK tidak lagi diputuskan di tingkat daerah dan tidak semua industri mendapatkan UMSK,
              agar ada fairness.
              Sedangkan perundingan nilai UMSK dilakukan oleh asosiasi jenis industri dengan serikat pekerja
              sektoral industri di tingkat nasional.

              Di mana keputusan penetapan tersebut hanya berlaku di beberapa daerah saja dan jenis sektor
              industri tertentu saja sesuai kemampuan sektor industri tersebut.

              "Jadi tidak harus sama rata sama rasa, karena faktanya setiap industri berbeda kemampuannya.
              Karena itu masih dibutuhkan UMSK," ujar  Said Iqbal  .

              2.  Pengurangan  Pesangon  Jadi  25  Kali  Upah  Bulanan    Buruh  menolak  pengurangan  nilai
              pesangon dari 32 bulan upah menjadi 25 bulan. Di mana 19 bulan dibayar pengusaha dan 6
              bulan dibayar BPJS Ketenagakerjaan.

              3. Perjanjian PKWT  Mengenai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dimana disebut  Said
              Iqbal  kontrak seumur hidup yang tidak ada batas waktu kontrak.

              Buruh disebut Said menolak PKWT seumur hidup.

              4. Sistem Outsourcing  Said Iqbal menilai, tanpa adanya batas jenis pekerjaan yang boleh di
              outsourcing.

                                                           977
   973   974   975   976   977   978   979   980   981   982   983