Page 998 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 998

Serikat buruh langsung merespons manuver DPR yang rampung membahas RUU Cipta Kerja
              (Ciptaker)  tingkat  I  pada  Sabtu  (3/10/2020)  jelang  tengah  malam  dengan  mengancam
              menggelar unjuk rasa--beberapa serikat menyebutnya mogok nasional--pada 6-8 Oktober 2020.
              Pelaku bisnis pun waswas karena itu bakal berdampak pada aktivitas usaha.

              Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang ketenagakerjaan Bob Azam
              mengatakan  mogok  akan  semakin  menyulitkan  pelaku  usaha  yang  sudah  terpuruk  karena
              pandemi COVID-19.

              Mogok akan mengganggu sebagian aktivitas produksi yang buruhnya ikut serta. Bila terganggu,
              maka perusahaan tidak akan bisa memenuhi pesanan yang efeknya bisa mengganggu ekspor.
              Jika  pesanan  sampai  terganggu,  bukan tak  mungkin  perusahaan  pembeli  terutama  dari  luar
              negeri memutuskan kontrak.

              Gangguan produksi juga bakal berdampak pada pemenuhan permintaan masyarakat. Di sisi lain,
              penurunan produksi juga berpotensi memengaruhi pendapatan perusahaan yang ujungnya turut
              menurunkan penerimaan negara dari pajak.

              Belum  lagi,  pada  September  2020  indikator  kinerja  manufaktur  Purchasing  Manager's  Index
              (PMI) September 2020 sudah turun, yang salah satunya disebabkan PSBB DKI Jakarta jilid 2.
              Angkanya turun menjadi 47,2 poin padahal sempat mencapai 50,8 poin di Agustus 2020--berada
              di atas batas minimum 50 alias ekspansif.

              "Ekonomi semakin terpuruk dan yang jadi korban buruh juga," ucap Bob saat dihubungi, Senin
              (5/10/2020).

              Perintah  Kapolri:  Intai,  Larang,  &    Lawan  Narasi  Penolak  UU  Ciptaker    Riset  Lembaga  Ilmu
              Pengetahuan  Indonesia  (LIPI),  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker),  dan  Lembaga
              Demografi Universitas Indonesia (UI) mencatat per Mei lalu sekitar 57,1 persen perusahaan yang
              disurvei mengaku sudah mengalami penurunan pendapatan. Sekitar 39,4 persennya berhenti
              beroperasi. Survei BPS tentang dampak COVID-19 pada pelaku usaha per September mencatat
              pelaku usaha yang mengalami penurunan pendapatan lebih besar lagi, yaitu 82,85 persen.

              Peneliti dari Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan jumlah
              buruh yang akan mengikuti aksi mungkin hanya 2-5 juta alias 10-20 persen total pekerja industri
              pengolahan yang mencapai 18 juta orang. Namun, dampaknya akan terasa lantaran manufaktur
              seperti pabrik menyumbang 19,98 persen PDB per Q2 2020 lalu.

              Belum lagi jika sebagian pekerja terpapar COVID-19 saat berada di keramaian. Hal ini tentu akan
              semakin memperparah dampak penurunan produksi yang dialami pelaku usaha.

              "Dampak  langsungnya  tentu  akan  ada  sektor  produksi  yang  terganggu,"  ucap  Yusuf,  Senin
              (5/10/2020).

              Kalau Tak Mau Rugi, Ya Negosiasi  Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengklaim akan
              ada 2 juta buruh anggota dari 3.000 pabrik di 25 provinsi bakal turun ke jalan. Jumlahnya bahkan
              mungkin bisa bertambah jadi 5 juta.

              Presiden KSPI Said Iqbal sadar betul aksi mereka memang akan memukul para pelaku usaha.
              Dan memang itu tujuannya. "Kalau tidak dikehendaki ada kerugian lebih besar, ya direnegosiasi
              ulang apa yang sudah diputuskan dalam RUU Ciptaker," ucap Said, Senin (5/10/2020).

              Meski begitu ia mengatakan apa yang mereka lakukan sah secara hukum. Ia diatur dalam UU
              Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan UU
              Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Pasal 4 menyebutkan fungsi serikat
              pekerja salah satunya adalah merencanakan dan melaksanakan pemogokan.

                                                           997
   993   994   995   996   997   998   999   1000   1001   1002   1003