Page 362 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 362

BURUH DI 10 DAERAH JABAR HARUS EKSTRA KENCANGKAN IKAT PINGGANG
              TAHUN DEPAN
              Buruh  di  10  kabupaten/kota  di  Jawa  Barat  tak  akan  merasakan  naiknya  upah  minimum
              kabupaten/kota (UMK) pada tahun 2022 mendatang. Hal itu berdasarkan Kepgub Jabar Nomor:
              561/ Kep.732-Kesra/2021 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Daerah Provinsi Jawa Barat
              Tahun 2022 pada 30 November 2021 yang ditandatangani Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

              10  daerah  itu  yakni  Kabupaten  Karawang,  Kabupaten  Bekasi,  Kabupaten  Bogor,  Kabupaten
              Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten
              Subang, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur.

              Tak naiknya UMK 10 kabupaten/kota di Jabar ini karena telah berada di rentang batas atas upah
              minimum yang perhitungannya diatur dalam Pasal 26 ayat ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor
              36 Tahun 2021 tentang pengupahan.

              "Sisanya,  ada  17  kabupaten/kota  yang  menang  ada  kenaikan  UMK  dan  itu  pun  didasarkan
              kepada  inflasi  dan Laju Pertumbuhan  Ekonomi  (LPE)  baik  secara  nasional,  provinsi,  maupun
              kabupaten/kota," ucap Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja dalam konferensi pers di Gedung
              Sate, Kota Bandung, Sabtu 21 November 2021.

              Meskipun UMK 2022 naik di 17 kabupaten/kota lainnya, regulasi itu hanya berlaku bagi pekerja
              dengan masa kerja kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, dalam Kepgub Jabar terkait UMK
              2022, gubernur menetapkan agar pengusaha menyusun dan memberlakukan struktur dan skala
              upah dalam menentukan besaran nilai upah yang dibayarkan terhadap pekerja dengan masa
              kerja lebih dari satu tahun.

              Buruh di Jabar mengaku kecewa dengan hasil keputusan UMK 2022. Hal itu diutarakan Ketua
              DPD KSPSI Jabar Roy Jinto yang menyebut kebijakan itu sebagai pil pahit yang diterima buruh
              usai berjuang selama berhari-hari di Gedung Sate.
              "Kita sangat kecewa dengan keputusan gubernur Jabar yang menerapkan UMK berdasarkan PP
              36/2021. Keputusan gubernur tersebut sangat menyakiti hati dan perasaan kaum buruh Jabar
              yang sudah berhari-hari berjuang, tapi berakhir dengan pil pahit bagi kaum buruh di Jabar," ucap
              Ketua DPD KSPSI Jabar Roy Jinto kepada detikcom, Rabu (1/12/2021).
              Roy menilai Ridwan Kamil tak menghargai proses-proses yang dilalui oleh Kabupaten dan Kota
              yang sudah merekomendasikan besaran UMK. Padahal, kata dia, bupati dan wali kota sudah
              melalui pengkajian yang matang dalam membuat rekomendasi tersebut.

              "Sampai ke gubernur, semua dimentahkan oleh gubernur Jabar dengan mengembalikan semua
              rekomendasi yang di atas PP 36/2021," tuturnya.

              Menurut  Roy,  MK  juga  sudah  menjatuhkan  putusan  atas  amar  ke-7  yang  menyebutkan  bila
              pemerintah tidak boleh mengeluarkan kebijakan program strategis dan berdampak luas. Hal ini
              dikaitkan dengan PP 36/2021.

              "Jelas bahwa pengupahan berdasarkan PP 36/2021 merupakan program strategis nasional yang
              pastinya berdampak luas," ucap Roy.









                                                           361
   357   358   359   360   361   362   363   364   365   366   367