Page 118 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 118

Judul               Buruh Menolak UMP 2022, Pengusaha Anggap Adil
                Nama Media          rctiplus.com
                Newstrend           Upah Minimum 2022
                Halaman/URL         https://www.rctiplus.com/news/detail/ekonomi/1720306/buruh-
                                    menolak-ump-2022-pengusaha-anggap-adil
                Jurnalis            Ekonomi
                Tanggal             2021-11-17 19:48:00
                Ukuran              0
                Warna               Warna
                AD Value            Rp 17.500.000
                News Value          Rp 52.500.000
                Kategori            Ditjen PHI & Jamsos
                Layanan             Korporasi
                Sentimen            Negatif



              Ringkasan

              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak formulasi kenaikan upah minimum (UM)
              yang  dibuat  pemerintah.  Buruh/pekerja  bahkan  mengancam  mogok  massal  bila  ketentuan
              tersebut tetap dilaksanakan.



              BURUH MENOLAK UMP 2022, PENGUSAHA ANGGAP ADIL

              JawaPos.com Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak formulasi kenaikan upah
              minimum (UM) yang dibuat pemerintah. Buruh/pekerja bahkan mengancam mogok massal bila
              ketentuan tersebut tetap dilaksanakan.

              Ada  sejumlah  alasan  yang  mendasari  penolakan  tersebut.  Ketua  KSPI  Said  Iqbal
              mengungkapkan,  penggunaan  PP  36/2021  dalam  penghitungan  UM  merupakan  tindakan
              inkonstitusional.
              Sebab,  dalam  UU  Cipta  Kerja  klaster  ketenagakerjaan,  tak  disebutkan  bahwa  penghitungan
              kenaikan  UM  akan  dijabarkan  dalam  peraturan  pemerintah  (PP).  Formula  kenaikan  upah
              minimum dengan istilah batas atas (BA) dan batas bawah (BB) tidak dikenal dalam UU Ciptaker,
              ujarnya dalam temu media kemarin (16/11).
              Menurut Said, penggunaan UU Ciptaker dan PP 36/2021 itu mencederai hukum. Sebab, saat ini
              UU Ciptaker sedang menjalani judicial review. Dengan demikian, karena belum berketetapan
              hukum, seharusnya peraturan masih menggunakan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan
              PP 78/2015.

              Dia menerangkan, buruh sejatinya sudah melakukan survei standar kebutuhan hidup layak (KHL)
              yang selama ini menjadi penentu kenaikan UM berdasar UU 133/2003. Dari hasil survei di 10
              provinsi, diperoleh rata-rata total KHL 710 persen.






                                                           117
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123